Bisnis / Makro
Rabu, 15 Juli 2026 | 14:27 WIB
Pekerja memikul karung berisi beras saat bongkar muat di Gudang Bulog Ternate, Maluku Utara, Senin (6/4/2026). [ANTARA FOTO/Andri Saputra/sgd]
Baca 10 detik
  • Bapanas memastikan ketersediaan 11 komoditas pangan strategis nasional aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat sepanjang tahun 2026.
  • Pemerintah menerapkan skema perdagangan terencana serta intervensi pasar untuk menjaga stabilitas harga sesuai ketentuan HAP dan HET.
  • Realisasi penyaluran bantuan pangan, beras SPHP, dan dukungan jagung peternak terus berjalan efektif di seluruh wilayah Indonesia.

Suara.com - Badan Pangan Nasional (Bapanas) memberikan jaminan bahwa ketersediaan komoditas pangan pokok secara nasional berada dalam postur yang aman.

Mengacu pada kalkulasi neraca logistik tahun 2026, setidaknya terdapat 11 macam komoditas pangan berkategori strategis yang diproyeksikan mampu mencukupi seluruh volume kebutuhan konsumsi masyarakat hingga akhir tahun.

Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Utama Bapanas, Sarwo Edhy, memaparkan bahwa sejumlah bahan pangan pokok seperti beras, jagung, cabai, gula untuk konsumsi, daging ayam, serta telur ayam posisinya terpantau masih mencatatkan surplus dalam skala nasional.

"Berdasarkan proyeksi neraca pangan 2026, secara umum ketersediaan 11 komoditas pangan strategis secara nasional berada dalam kondisi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Beberapa komoditas utama seperti beras, jagung, gula konsumsi, cabai, telur ayam, dan daging ayam masih mencatatkan surplus," kata Edhy dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IV DPR RI, Rabu (15/7/2026).

Mengenai beberapa jenis bahan pangan yang kapasitas produksi domestiknya belum mampu menutupi angka kebutuhan di dalam negeri, Edhy memastikan bahwa pihak otoritas telah menyiapkan skema pemenuhan stok melalui jalur perdagangan yang terukur dan terencana.

"Sementara kebutuhan beberapa komoditas lainnya masih dipenuhi melalui mekanisme perdagangan yang telah direncanakan. Kondisi ini menjadi dasar bagi pemerintah dalam menjaga stabilisasi pasokan dan harga pangan," ujarnya.

Ia mengimbuhkan bahwa tren pergerakan nilai jual bahan pokok strategis di tingkat nasional secara umum masih berada pada koridor yang aman. Kendati demikian, intervensi pasar secara aktif akan tetap dilakukan di beberapa wilayah yang menunjukkan indikasi lonjakan harga, agar nilai jual komoditas tersebut kembali masuk dalam batasan Harga Acuan Pemerintah (HAP) maupun Harga Eceran Tertinggi (HET).

"Sebagian besar komoditas secara nasional masih berada dalam kondisi terkendali. Meskipun pada beberapa komoditas dan wilayah tertentu masih diperlukan langkah stabilisasi agar harga tetap berada dalam rentang HAP maupun HET," ucapnya.

Menurut penjelasannya, langkah intervensi pasar dilakukan secara hati-hati dengan menimbang faktor hambatan geografis serta sifat dari tiap-tiap bahan pangan, agar program stabilisasi tersebut dapat berjalan dengan efisiensi tinggi serta tepat sasaran.

Baca Juga: Harga Cabai Turun Namun Bawang Putih Naik, Ini Penyebabnya

Hingga memasuki pekan pertama Juli 2026, program pendistribusian beras untuk Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tercatat telah menembus angka 458.000 ton. Realisasi ini setara dengan 55,29 persen dari total kuota yang ditargetkan bergulir tahun ini, yakni sebesar 828.000 ton.

Di samping itu, penyerapan program bantuan logistik pangan fase pertama yang menyasar 33,2 juta keluarga penerima manfaat persentasenya telah menyentuh angka 99,90 persen.

Sedangkan untuk inisiatif Gerakan Pangan Murah, pelaksanaannya sudah dieksekusi sebanyak lebih dari 6.000 kali yang tersebar di 38 provinsi serta 444 kabupaten/kota.

Pada sektor peternakan, realisasi penyaluran jagung SPHP yang dialokasikan bagi para peternak ayam petelur mandiri per tanggal 13 Juli 2026 dilaporkan telah menyentuh angka 74.699 ton, atau berkisar 35,04 persen dari keseluruhan alokasi pagu tahunan sebesar 213.200 ton. Langkah taktis ini dijalankan demi mengawal stabilitas harga komoditas telur di tingkat produsen hulu.

Load More