- Pertamina: Kelangkaan dipicu lonjakan konsumsi Pertalite dan Biosolar.
- Penyaluran Pertalite capai 104%, Biosolar 105% dari konsumsi normal.
- Pertamina tambah pasokan, armada, dan jam operasional SPBU.
Suara.com - PT Pertamina Patra Niaga (PPN) mengakui bahwa penyebab kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang memicu antrean panjang di sejumlah daerah dalam beberapa hari terakhir imbas karena kenaikan harga BBM non-subsidi.
Perusahaan menyebut lonjakan konsumsi Pertalite dan Biosolar akibat pergeseran penggunaan BBM non subsidi menjadi faktor utama yang membuat distribusi sempat terganggu.
Wakil Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, mengatakan fenomena tersebut terjadi di sejumlah wilayah, terutama di Pulau Sumatera, yang diikuti aksi pembelian berlebihan (panic buying) oleh masyarakat.
"Kami menyadari bahwa pada beberapa waktu terakhir masih terjadi antrean dan pembelian secara berlebihan atau panic buying di beberapa wilayah di Sumatera secara umum yang juga dipengaruhi oleh kenaikan ataupun shifting dari konsumsi BBM kepada BBM subsidi yaitu Pertalite dan Solar," ujar Taufik dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Menurut Taufik, lonjakan konsumsi tersebut tidak langsung dapat direspons melalui distribusi karena adanya jeda waktu (lagging) dalam penyesuaian pasokan ke lembaga penyalur dan SPBU.
"Dan juga mungkin ada lagging dalam distribusi untuk merespons peningkatan volume penyerapan BBM bersubsidi tersebut ke lembaga penyalur," katanya.
Atas kondisi tersebut, Pertamina Patra Niaga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang terdampak oleh kelangkaan dan antrean panjang di sejumlah SPBU.
"Atas ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat kami menyampaikan permohonan maaf," tutur Taufik.
Ia menjelaskan, realisasi penyaluran harian sepanjang Juli 2026 menunjukkan adanya lonjakan permintaan yang cukup signifikan. Penyaluran Pertalite telah mencapai 104 persen dibanding rata-rata konsumsi normal, sementara Solar atau Biosolar menyentuh 105 persen.
Baca Juga: Antre Solar Berujung Maut, Kenapa BBM Langka di Sumatra?
Untuk mempercepat normalisasi pasokan di lapangan, Pertamina Patra Niaga melakukan penebalan stok dan pengaturan ulang distribusi. Langkah tersebut mencakup penambahan armada mobil tangki, perpanjangan jam operasional SPBU, hingga percepatan pengiriman BBM dari terminal menuju SPBU.
Selain itu, perusahaan juga menggandeng Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di berbagai wilayah guna mempercepat pemulihan distribusi.
"Kemudian juga tentunya koordinasi dengan Forkopimda setempat untuk mengoordinasi mempercepat normalisasi kondisi di lapangan," ujarnya.
Di tengah meningkatnya permintaan, Pertamina memastikan kondisi stok energi nasional masih berada pada level aman. Per 16 Juli 2026, total stok BBM dan LPG secara nasional tercatat mencapai 3,61 juta kiloliter dan dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Perseroan juga menyatakan akan terus memantau perkembangan konsumsi harian agar distribusi dapat disesuaikan secara cepat apabila terjadi lonjakan permintaan di wilayah tertentu.
Sebelumnya, kelangkaan Pertalite dan Biosolar terjadi di sejumlah SPBU di Kota Medan sejak 13 Juli 2026. Kondisi tersebut membuat masyarakat harus mengantre panjang untuk mendapatkan BBM bersubsidi, bahkan sebagian memilih beralih menggunakan BBM non subsidi demi menjaga aktivitas tetap berjalan.
Selain Medan, gangguan pasokan BBM bersubsidi juga dilaporkan terjadi di sejumlah daerah lain, termasuk Ketapang, Kalimantan Barat.
Berita Terkait
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
Pilihan
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
Terkini
-
Kapan Harus Resign dari Pekerjaan? Kenali 5 Tanda yang Perlu Diwaspadai
-
Tarif Transjakarta Akan Naik? Ini Syarat Mutlak dari DPRD DKI Jakarta
-
Bos Pertamina Akui Kenaikan Harga Pertamax Picu Kelangkaan BBM Subsidi: Saya Minta Maaf!
-
Masih Terpusat di Jawa, Distribusi E-Commerce ke Maluku dan Papua Jadi Tantangan
-
Apa FIFA Berani Hukum Berat Argentina Usai Aksi Provokatif Lionel Messi Cs?
-
AI Perparah Krisis Chip, Produksi Mobil Turut Terancam
-
Peluang Cuan di Blok Masela Demi Gaji Guru dan Sekolah Kelas Dunia
-
Daftar 5 Mobil Bekas Irit BBM yang Bisa Jadi Alternatif Mobil Hybrid
-
Digitalisasi Pelabuhan Pangkas Proses Bisnis, Layanan Kapal Makin Cepat
-
Ledakan Keras Guncang Doha Qatar!