- Banyak orang tetap bertahan di tempat kerja meski merasa tidak nyaman karena ragu menentukan waktu yang tepat untuk resign.
- Menurut para ahli, terdapat sejumlah tanda yang dapat menjadi pertimbangan bahwa sudah saatnya mencari peluang kerja baru.
- Simak penjelasan mengenai tanda-tanda tersebut agar keputusan resign dapat diambil secara lebih bijak, matang, dan terencana.
Suara.com - Banyak orang bertahan di tempat kerja meski sudah merasa tidak nyaman karena khawatir salah mengambil keputusan atau belum yakin apakah memang sudah waktunya untuk berhenti.
Padahal, menurut ahli, ada sejumlah tanda yang dapat menunjukkan bahwa seseorang mungkin perlu mulai mempertimbangkan untuk mencari peluang baru.
Mengenali tanda-tanda tersebut penting agar keputusan resign didasarkan pada pertimbangan yang matang, bukan sekadar emosi sesaat. Lalu, kapan waktu yang tepat untuk resign?
Tanda-Tanda Perlu Resign dari Pekerjaan
Merangkum keterangan pakar dari laman University of Southern California, tanda-tanda seseorang perlu resign dari pekerjaan umumnya ada lima. Berikut penjelasannya:
1. Peluang Karier Tidak Lagi Berkembang
Salah satu tanda sudah waktunya mempertimbangkan resign adalah ketika peluang untuk berkembang mulai terhenti.
Jika promosi, pengembangan keterampilan, atau kesempatan mengambil tanggung jawab baru tidak lagi tersedia, karier bisa terasa stagnan.
"Nilai struktur organisasi saat ini dan lihat apakah Anda percaya pergerakan lateral dan horizontal dimungkinkan dengan ambisi Anda," saran Cheng Yu Hou, selaku HR Expert.
"Ketika pertumbuhan dibatasi atau terbatas berdasarkan ambisi Anda, Anda mungkin ingin mencari peluang baru," imbuh lulusan University of California tersebut.
Baca Juga: Siap-siap! 92 Juta Pekerjaan Bakal Hilang, Kemdiktisaintek Minta Kampus Segera Berubah
2. Muncul Masalah Etika di Tempat Kerja
Lingkungan kerja yang dipenuhi persoalan etika atau hukum dapat menjadi alasan kuat untuk mencari pekerjaan baru.
Kondisi ini semakin serius apabila perusahaan mengabaikan kepatuhan, atau ketika pelecehan maupun diskriminasi tidak ditangani dengan semestinya.
"Ketika ada komplikasi yang mencampuradukkan politik dengan etika dan kepatuhan, mungkin sudah saatnya untuk mencari peluang baru yang akan menghargai kepatuhan dan etika," kata Hou lagi.
Saran serupa juga disampaikan oleh Maisha Daniel selaku Vice President sekaligus Global Human Resources Avalara, sebuah perusahaan teknologi inovatif yang membangun kepatuhan berbasis cloud untuk menangani perhitungan pajak global.
"Anda benar-benar harus mempertimbangkan untuk meninggalkan pekerjaan jika mengalami pelecehan atau diskriminasi. Dan, Anda telah menggunakan semua sumber daya yang tersedia untuk membantu di tempat kerja," jelas Maisha Daniel.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gus Kikin Pimpin PBNU, Antara Satire 'Salah Dalil' hingga Guyon 'PWNU Jatim Cabang Jakarta'
- Persib Bandung vs Seoul FC dan Melbourne Victory, Mariano Peralta Kirim Psywar
- 8 Sepatu Jalan untuk Komuter KRL dan MRT yang Empuk dan Awet
- 9 Pilihan HP Infinix RAM 8GB Kelas Entry Level Harga Rp1-3 Jutaan
- Kulkas Merek Apa yang Tidak Ada Bunga Es? Ini Pilihan dan Tips agar Tak Salah Beli
Pilihan
-
Sudah dari 2023, 'Nyelang' Jadi Napas Warga Pesisir Cilincing Demi Dapatkan Air Bersih
-
Dikepung Asap Karhutla, Pesawat Menhut Raja Juli Antoni Gagal Mendarat di Pontianak
-
Santap Siang Bareng di Rusia, Prabowo Minta Maaf ke Putin Karena Hal Ini
-
Dua Bus Transjakarta Tubrukan di Pancoran, Benarkah Sopir Mengantuk karena Cuti Duka Ditolak?
-
Bikin Cemas! Pesawat Garuda Indonesia Pecah Ban Angkut 156 Penumpang
Terkini
-
Bukan Hanya Pangan dan Tempat Tinggal, Ini Kebutuhan Utama Warga Terdampak Gempa NTT
-
Pertama Kali Donor Darah? Simak Panduan dan Persiapannya dari Aksi Indodana Finance-KSDD
-
Karhutla Masuk Area Konsesi, Lebih dari 10 Perusahaan Perkebunan Sumsel Diminta Klarifikasi
-
FT Timnas Indonesia U-20 vs Laos: Zahaby Gholy Cetak Brace, Garuda Muda Puncak Klasemen
-
Donald Trump Bantah Rencana Ganti Nama Selat Hormuz dengan Namanya Sendiri
-
Kebakaran Renggut Nyawa 3 Pekerja, PT Evyap Beri Bantuan dan Evaluasi Operasional
-
Karhutla Sumsel Terus Berulang, Ketimpangan Agraria Kembali Dipertanyakan
-
Dari 566 Korban Keracunan Massal Sidoarjo, Tersisa 34 Santri Masih Dirawat di RS
-
Kali Bekasi Hitam Pekat dan Berbau
-
Polisi Bongkar Jaringan Merkuri Ilegal 1 Ton Senilai Rp2,8 Miliar, Pasok Tambang Emas di 3 Wilayah