Bisnis / Makro
Jum'at, 31 Juli 2026 | 16:19 WIB
Ilustrasi kerajinan kulit. (DocPribadi/AillaSalsabilla)
Baca 10 detik
  • Kementerian Perindustrian menyatakan industri kulit dan alas kaki mengalami kontraksi pada Juli 2026 akibat penurunan ekspor.
  • Penurunan pesanan luar negeri disebabkan oleh perlambatan perdagangan global serta kehati-hatian konsumen di negara tujuan ekspor.
  • Meskipun sektor ekspor tertekan, pasar domestik tetap tumbuh dan utilisasi industri secara keseluruhan masih terjaga dengan baik.

Suara.com - Industri kulit dan alas kaki menjadi satu-satunya subsektor manufaktur yang mengalami kontraksi pada Juli 2026. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut, pelemahan tersebut dipicu turunnya permintaan dari pasar ekspor, bukan karena lesunya pasar domestik.

Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki (ITKAK) Kementerian Perindustrian, Rizki Aditya Wijaya, mengatakan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) subsektor kulit, barang dari kulit, dan alas kaki berada di level 48,18, atau di bawah ambang batas ekspansi.

"Kontraksi ini tidak serta-merta menunjukkan melemahnya struktur industri alas kaki nasional. Melainkan terjadi sejalan dengan adanya tekanan terutama pada perusahaan-perusahaan yang berorientasi pada ekspor," kata Rizki kepada wartawan, Jumat (31/7/2026).

Ia menjelaskan, perusahaan alas kaki yang berorientasi ekspor mencatat tingkat kontraksi yang lebih dalam, yakni 42,22, sedangkan produsen yang menyasar pasar domestik masih berada pada fase ekspansi.

Berdasarkan komponen pembentuk IKI, indeks pesanan baru tercatat sebesar 48,35, indeks produksi 49,39, sedangkan indeks persediaan berada di angka 45,91. 

Kondisi tersebut menunjukkan produsen tengah menghadapi penurunan pesanan yang berdampak pada penyesuaian volume produksi.

Ilustrasi buruh pabrik alas kaki (Dok. Istimewa)

Menurut Rizki, tekanan terhadap industri alas kaki nasional tidak terlepas dari perlambatan perdagangan global.

Mengacu pada data World Footwear, nilai ekspor negara-negara produsen alas kaki utama dunia pada triwulan I 2026 turun 12,3 persen, sedangkan volumenya menyusut 3,2 persen.

Sementara itu, ekspor alas kaki Indonesia juga mengalami penurunan sekitar 10 persen. Di sisi lain, impor alas kaki oleh negara tujuan utama ekspor Indonesia tercatat turun hingga 18 persen.

Baca Juga: Tekanan Mereda, Kepercayaan Industri RI Kembali Menguat pada Juli 2026

"Kondisi tersebut menunjukkan konsumen di negara-negara tujuan ekspor masih berhati-hati dalam melakukan pembelian," ujar Rizki.

Ia menambahkan, seluruh perusahaan eksportir yang menjadi responden survei menyampaikan penurunan pesanan berasal dari pasar luar negeri. 

Faktor yang paling banyak disebut antara lain melemahnya kondisi ekonomi negara mitra dagang, penurunan harga jual ekspor, serta perubahan kebijakan perdagangan di negara tujuan.

Meski menghadapi tekanan ekspor, Rizki memastikan kondisi industri alas kaki nasional secara keseluruhan masih terjaga. 

Tingkat utilisasi sektor tersebut masih berada di kisaran 78 persen, sementara permintaan dari pasar domestik tetap menunjukkan pertumbuhan.

"Perlu kami sampaikan bahwa faktor-faktor pasar ekspor inilah yang memengaruhi penurunan IKI di sektor kulit dan alas kaki," katanya.

Load More