- Harga minyak dunia terkoreksi tipis pada Jumat pagi akibat potensi kesepakatan akses Amerika Serikat terhadap cadangan minyak Venezuela.
- Pemerintahan Donald Trump semakin dekat mengamankan pengelolaan ladang minyak Venezuela melalui perusahaan Amerika Serikat dalam waktu dekat.
- Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz turut memengaruhi pergerakan pasar minyak global sepanjang pekan ini.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia terkoreksi tipis pada perdagangan Jumat (28/8/2026) pagi. Pasar tengah mencermati laporan terkait makin dekatnya kesepakatan akses Amerika Serikat (AS) terhadap cadangan minyak Venezuela, di tengah ketegangan antara AS dan Iran yang berlanjut di Selat Hormuz.
Mengutip dari Investing.com, hingga pukul 00.41 GMT (07.41 WIB), minyak mentah berjangka jenis Brent melemah 0,3 persen menjadi 89,45 dolar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 0,2 persen ke posisi 83,39 dolar AS per barel. Meski sempat rebound cukup kuat pada Kamis, kedua instrumen acuan ini diperkirakan akan mencatatkan penurunan mingguan sebesar 4 hingga 5,5 persen.
Melansir Reuters, pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan kian dekat untuk mengamankan akses jangka panjang atas sebagian cadangan minyak mentah Venezuela.
Kesepakatan yang diperkirakan bakal ditandatangani dalam waktu dekat ini akan memberi wewenang bagi pemerintah AS untuk mengelola sejumlah ladang minyak Venezuela melalui perusahaan-perusahaan asal AS.
Langkah ini menyusul konsolidasi kontrol Washington atas industri minyak Venezuela pasca-lengsernya Nicolas Maduro.
Kendati kabar ini memicu spekulasi potensi lonjakan pasokan di pasar global, para analis mengingatkan bahwa peningkatan produksi secara riil tetap membutuhkan waktu mengingat rusaknya infrastruktur minyak di negara tersebut.
Di samping itu, Venezuela juga dilaporkan sedang mempertimbangkan opsi keluar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) seiring makin eratnya hubungan dengan Washington.
Jika terealisasi, ini akan menjadi aksi pengunduran diri besar kedua setelah Uni Emirat Arab lebih dahulu menyatakan keluar dari blok produsen minyak tersebut.
Sepanjang pekan ini, pergerakan Brent dan WTI utamanya tertekan oleh laporan awal bahwa Iran dan Oman sepakat mengizinkan sebagian lalu lintas kapal melintasi Selat Hormuz.
Pada Kamis, Iran menyatakan sedang menyiapkan daftar syarat untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis yang menyalurkan seperlima minyak dunia tersebut sebelum terjadinya konflik dengan AS.
Namun, potensi pelemahan harga minyak tertahan setelah laporan Wall Street Journal menyebutkan bahwa Presiden Trump tidak berminat kembali ke kesepakatan damai bulan Juni dengan Iran.
Di sisi lain, Teheran secara konsisten menuntut AS untuk menghormati ketentuan perjanjian damai yang telah habis masa berlakunya pada awal Agustus tersebut sebelum memulai negosiasi baru.