Rupiah Dibuka Menguat ke Rp18.121 per Dolar AS, Ini Sentimen Pendorongnya

Jum'at, 30 Oktober 2026 | 09:52 WIB
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
BACA 10 DETIK
  • Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis ke level Rp18.121 per dolar AS pada Jumat (30/10/2026).
  • Penguatan rupiah dipicu oleh penurunan indeks dolar AS akibat data inflasi yang sesuai dengan perkiraan pasar.
  • Kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan pasar saham domestik membuat ruang penguatan rupiah menjadi terbatas.

Suara.com - Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Jumat (30/10/2026) dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan mata uang Garuda terjadi seiring dengan tekanan yang masih membayangi indeks dolar AS di pasar global.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp18.121 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 16 poin atau 0,09 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.137 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah pada pembukaan perdagangan kali ini didukung oleh sentimen eksternal. Salah satunya berasal dari data inflasi Amerika Serikat yang memberikan tekanan terhadap indeks dolar AS.

"Rupiah dibuka menguat tipis didukung oleh penurunan besar pada indeks dolar AS pasca-data inflasi AS yang lebih sesuai dengan perkiraan," katanya.

Meski demikian, ruang penguatan rupiah dinilai masih terbatas. Pasalnya, kenaikan harga minyak dunia berpotensi menjadi sentimen negatif bagi pergerakan mata uang Garuda.

Selain itu, kondisi pasar saham domestik yang masih lemah juga turut memberikan tekanan terhadap rupiah.

Ilustrasi harga minyak dunia. [Unsplash]

"Harga minyak dunia yang kemabli melonjak mencapai level tertinggi baru dalam sebulan akan membatasi penguatan rupiah. Sentimen yang masih lemah di pasar ekuitas domestik juga terus membebani. Range rupiah di kisaran Rp18.100- Rp18.200," jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan bergerak dalam rentang Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS sepanjang perdagangan.

Sementara itu, mayoritas mata uang Asia terpantau bergerak menguat terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat.

Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan Asia setelah naik 0,32 persen. Posisi berikutnya ditempati ringgit Malaysia yang menguat 0,319 persen.

Kemudian, peso Filipina terapresiasi 0,29 persen dan yen Jepang naik 0,18 persen. Dolar Singapura juga menguat 0,12 persen, disusul baht Thailand yang naik 0,08 persen.

Selanjutnya, yuan China menguat 0,03 persen dan dolar Hong Kong naik tipis 0,01 persen terhadap dolar AS.

Di sisi lain, dolar Taiwan menjadi satu-satunya mata uang Asia yang mengalami pelemahan pada perdagangan tersebut. Mata uang Taiwan tercatat turun 0,38 persen terhadap dolar AS.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com