BEI Proyeksi Puluhan UKM Siap IPO Tahun 2027

Senin, 02 November 2026 | 16:56 WIB
[Suara.com/Alfian Winanto]
BACA 10 DETIK
  • PT Bursa Efek Indonesia menargetkan puluhan UKM binaan siap melakukan penawaran umum perdana saham tahun depan.
  • BEI dan Kementerian UMKM membina dua puluh tiga perusahaan melalui program pelatihan intensif untuk mengakses alternatif pembiayaan murah.
  • Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin menyatakan keputusan akhir pelaksanaan IPO dikembalikan kepada rencana bisnis masing-masing manajemen.

Suara.com - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus menunjukkan komitmen agresifnya dalam mendorong inklusi pendanaan pasar modal bagi para pelaku usaha lokal di Tanah Air.

Otoritas bursa memproyeksikan bahwa puluhan perusahaan yang saat ini masih berada dalam kategori Usaha Kecil Menengah (UKM) akan segera naik kelas dan siap melangsungkan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) pada tahun depan.

Optimisme ini lahir dari progres positif program coaching clinic atau klinik pelatihan intensif yang kini tengah digulirkan secara masif. Dalam pelaksanaannya, BEI secara khusus menggandeng Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk membina dan menyeleksi 23 UKM potensial. Sinergi strategis lintas lembaga ini dirancang sebagai katalis guna memfasilitasi para pelaku usaha menengah dalam mengakses alternatif sumber pembiayaan berskala besar yang jauh lebih murah dibandingkan instrumen utang konvensional.

Bagi perusahaan berskala UKM, menembus ketatnya regulasi bursa saham bukan sekadar perkara pencarian modal segar, melainkan juga transformasi fundamental dalam tata kelola perusahaan perusahaan. Terkait tingkat kesiapan puluhan peserta pelatihan ini, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, memaparkan pandangannya usai mengevaluasi jalannya program tersebut.

"Memang dalam setahun terakhir ini (BEI) ada kerja sama dengan Kementerian UMKM yang sudah ke dalam coaching clinic, ada 23 perusahaan dan rasanya hampir seluruhnya dalam tahun depan harusnya sudah siap," ujar Saidu dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Senin (2/11/2026).

Kendati pintu menuju lantai bursa telah dibuka lebar melalui pembinaan eksklusif ini, pihak otoritas pasar modal tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Saidu secara tegas menggarisbawahi bahwa realisasi untuk benar-benar mengeksekusi IPO pada akhirnya akan dikembalikan sepenuhnya pada kehendak dan rencana bisnis jangka panjang masing-masing manajemen UKM.

BEI memanfaatkan wadah coaching clinic ini bukan semata-mata untuk mengejar kuantitas emiten baru. Lebih jauh dari itu, program ini difokuskan untuk membedah kelayakan model bisnis serta memperkuat struktur finansial entitas tersebut sebelum mereka resmi menyandang status sebagai perusahaan publik.

"Tapi IPO itu adalah pilihan, yang disajikan adalah kualitas dari para perusahaan yang memang mereka ready untuk IPO atau ready untuk akses terhadap pasar modal. Tentunya, kita punya aturan-aturan pencatatan yang memang harus dipenuhi," ujar Saidu.

Tantangan terberat bagi sebuah perusahaan kelas menengah yang bertransformasi menjadi emiten publik sesungguhnya berada pada fase pasca-pencatatan. Saidu mengingatkan para peserta klinik bahwa kesiapan mereka tidak boleh hanya diukur dari kemampuan menembus prasyarat administratif awal. Aspek krusial yang kerap menjadi batu sandungan adalah adaptasi manajemen dengan budaya transparansi tinggi serta kedisiplinan dalam menjalankan regulasi sebagai entitas terbuka.

"Sehingga kita ingin kualitas perusahaan tercatat di Indonesia itu meningkat, yang harus kita siapkan, bukan mereka hanya siap sebelum IPO, tapi setelah menjadi perusahaan publik, mereka siap untuk menangguh kewajiban-kewajiban sebelumnya perusahaan punya," kata Saidu.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com