- Rupiah melemah 3,4 persen per tahun akibat tekanan global dan domestik, menggerus daya beli masyarakat.
- Langkah lindung nilai (hedging) melalui diversifikasi aset ke instrumen berbasis dolar AS dianggap makin krusial bagi kelas menengah ke atas.
- Prudential Indonesia meluncurkan PRUProsper untuk melindungi kekayaan kelas atas melalui diversifikasi dolar AS.
Suara.com - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan pelemahan, dengan rata-rata penurunan atau Compound Annual Growth Rate (CAGR) mencapai 3,4 persen per tahun dalam satu dekade terakhir.
Di tengah bayang-bayang volatilitas pasar keuangan global dan domestik, langkah lindung nilai (hedging) melalui diversifikasi aset ke instrumen berbasis dolar AS dianggap makin krusial bagi kelas menengah ke atas.
Head of Investment PT Eastspring Investments Indonesia, Liew Kong Qian menjelaskan bahwa ketidakpastian makroekonomi saat ini dipicu oleh berbagai faktor.
Sederet faktor itu meliputi lonjakan harga minyak di atas 100 Dolar AS per barel akibat konflik di Timur Tengah, hingga pergerakan agresif The Fed selaku bank sentral Amerika Serikat.
"Kenaikan suku bunga imbal hasil US Treasuries dari 4 persen menjadi di atas 5 persen dalam setahun merupakan perubahan yang cukup drastis di pasar modal global," ungkapnya dalam konferensi pers, Rabu (4/11/2026).
Sedangkan di pasar domestik, tren serupa terjadi dengan naiknya imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) dengan tenor 10 tahun dari 7 persen menjadi 7,7 persen, diwarnai dengan perubahan kepemimpinan pada institusi keuangan negara.
Jika tren depresiasi rupiah ini berlanjut, yang bahkan bisa mendekati 5 persen dalam jangka pendek, daya beli aset dalam rupiah dipastikan akan terus tergerus.
"Sebagai contoh, yield obligasi 7,7 persen dikurangi pelemahan nilai tukar 3,4 persen, maka keuntungan riilnya hanya sekitar 4 persen. Jika ada investasi berbasis dolar AS yang potensinya di atas 4 persen, hal ini tentu sangat menarik untuk dipertimbangkan," tambah Kong Qian.
Merespons tantangan inflasi dan volatilitas tersebut, PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) meluncurkan produk PRUProsper, sebuah solusi asuransi jiwa dwiguna berbasis dolar AS yang dirancang khusus untuk segmen atau menengah ke atas. Produk ini tidak hanya menawarkan proteksi, tetapi juga menjadi instrumen diversifikasi yang kuat untuk menjaga nilai kekayaan.
Head of Agency and Health Product Management Prudential Indonesia, Riswan Harapan mengungkapkan bahwa PRUProsper hadir untuk menjawab kebutuhan nasabah kelas atas yang memiliki gaya hidup mengglobal seperti memiliki bisnis lintas negara, hobi traveling, atau merencanakan pendidikan anak di luar negeri. Lebih lagi, biaya-biaya global ini sangat sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar.
"Jika depresiasi 3,4 persen per tahun diakumulasi selama 10 tahun, nilainya bisa berkurang lebih dari 30 persen. Biaya sekolah anak yang awalnya diperkirakan USD 1 juta, bisa membengkak 30 persen lebih akibat pelemahan kurs," papar Riswan.
PRUProsper menawarkan skema pembayaran premi singkat selama lima tahun untuk masa pertanggungan 15 tahun tanpa memerlukan pemeriksaan medis.
Sebagai bentuk diversifikasi, nasabah akan menerima manfaat tunai tahunan sebesar 7 persen dari premi yang cair mulai akhir tahun ketiga hingga tahun ke-15. Pada penghujung tahun ke-15, produk ini memberikan jaminan manfaat akhir pertanggungan sebesar 565 persen dari premi tahunan.
Selain mengamankan nilai kekayaan dalam dolar AS, PRUProsper juga berfungsi sebagai asuransi jiwa dengan uang pertanggungan meninggal dunia sebesar 105 persen dari total premi jika terjadi risiko selama masa perlindungan.
Dengan premi minimal USD 2.500 per tahun, produk ini membuka akses diversifikasi valas yang terjangkau. Selama masa promosi peluncuran hingga 15 November 2026, Prudential Indonesia juga menawarkan program cashback sebesar 5 persen bagi nasabah baru.
"Bayar preminya dalam dolar, manfaatnya pun dibayarkan dalam dolar AS. Dengan nilai pengembalian yang dijamin, produk ini menjadi alternatif investasi untuk menjaga kekayaan agar tetap relevan di masa depan," jelasnya.