- Dokter Tommy Desky menyatakan dalam seminar di Jakarta pada Rabu (28/10/2026) bahwa kesehatan mata penting untuk mendukung keputusan pemain sepak bola di lapangan.
- Profesor Tjahjono D. Gondhowiarjo menjelaskan bahwa pemeriksaan mata atlet harus mencakup objek bergerak, kedalaman, sisi pandangan, serta kestabilan saat kepala bergerak.
- Pelatih Indra Sjafri menilai kemampuan membaca permainan melalui kesehatan mata harus dibangun sejak masa pembinaan bersama teknik, fisik, dan mental pemain.
Suara.com - Di lapangan sepak bola, kemampuan melihat bukan sekadar soal ketajaman mata. Pemain juga harus mampu mengikuti pergerakan bola, membaca posisi lawan dan rekan setim, memperkirakan jarak, hingga mengambil keputusan dalam waktu singkat.
Karena itu, kesehatan mata dan fungsi penglihatan perlu diperhatikan sejak masa pembinaan hingga jenjang profesional.
Pentingnya fungsi penglihatan dalam sepak bola menjadi pembahasan dalam seminar “Vision of A Champion: Ketajaman Visual sebagai Kunci Performa sang Garuda” yang digelar JEC Eye Hospitals and Clinics pada Rabu (28/10/2026) di RS Mata JEC @ Kedoya, Jakarta.
Seminar ini menghadirkan Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiarjo, SpM(K), PhD, Coach Indra Sjafri, dan dr. Tommy Desky. Diskusi mempertemukan perspektif medis dan kepelatihan untuk membahas peran penglihatan dalam mendukung performa pemain.
Prof. Tjahjono menjelaskan, pemain membutuhkan fungsi penglihatan yang optimal untuk mengamati situasi pertandingan dan menentukan respons terhadap pergerakan bola. Gangguan penglihatan dapat memengaruhi kemampuan mengenali objek bergerak maupun membaca kondisi lapangan.
Salah satu topik yang dibahas adalah crossed laterality atau dominansi silang, yakni kondisi ketika mata dominan berada di sisi berlawanan dengan tangan dan/atau kaki dominan. Contohnya, pemain memiliki mata kiri dominan, tetapi kaki kanannya lebih dominan.
Penelitian dalam jurnal Frontiers in Physiology (2018) terhadap 72 pemain elite Stade Rennais di Prancis dan sembilan pemain amatir menemukan dominansi silang pada 53 persen pemain elite dan 33 persen pemain amatir. Temuan ini menjadi bahan pembahasan mengenai hubungan dominansi mata dan koordinasi gerak, tetapi tidak membuktikan bahwa kondisi tersebut membuat pemain lebih unggul.
Selain dominansi mata, pemain membutuhkan kemampuan melihat objek diam (static visual acuity) dan bergerak (dynamic visual acuity), persepsi kedalaman, penglihatan perifer, serta kemampuan menjaga pandangan tetap stabil ketika kepala bergerak.
Scanning Membantu Pemain Membaca Permainan
Fungsi penglihatan juga mendukung tracking, yaitu mengikuti pergerakan bola, dan scanning, yakni mengamati situasi sekitar untuk membaca posisi rekan, lawan, serta ruang yang tersedia.
Dokter sekaligus analis sepak bola, dr. Tommy Desky, menjelaskan bahwa pemain perlu mengumpulkan informasi sebelum menerima bola. Informasi tersebut membantu menentukan keputusan untuk mengoper, menggiring, atau bergerak mencari ruang.
Kebiasaan scanning dapat dilatih sejak di sekolah sepak bola menggunakan cone, angka, atau penanda visual dengan tingkat kesulitan sesuai usia dan kemampuan pemain. Pengamatan langsung maupun rekaman pertandingan juga dapat membantu mengevaluasi keputusan pemain.
Coach Indra Sjafri menilai kemampuan membaca permainan perlu dibangun sejak dini, seiring pengembangan keterampilan teknik, fisik, dan mental. Kolaborasi pelatih dengan tenaga medis juga diperlukan agar kesehatan pemain mendapat perhatian dalam proses pembinaan.
Prof. Tjahjono menambahkan, pemeriksaan mata membantu mendeteksi kelainan refraksi, gangguan kerja sama kedua mata, maupun kondisi lain yang memerlukan penanganan.
Pemeriksaan sejak anak-anak penting karena mereka belum tentu mampu mengenali atau menyampaikan gangguan penglihatan.