- Survei SNLIK 2026 mencatat indeks literasi keuangan Gen Z usia 18 hingga 25 tahun mencapai 73,32 persen.
- Direktur Utama Cermati Fung Fuk Lestario menyatakan rekam jejak kredit penting untuk rekrutmen kerja dan pengajuan pembiayaan.
- Pemeriksaan laporan kredit secara berkala melalui platform resmi membantu masyarakat mendeteksi penyalahgunaan data pribadi dan kesalahan pencatatan.
Suara.com - Jejak rekam kredit generasi Z (Gen Z) kini menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan dalam mengelola kesehatan keuangan.
Pasalnya, riwayat pembayaran pinjaman atau kredit tidak hanya berpengaruh terhadap peluang mendapatkan pembiayaan, tetapi juga berpotensi menjadi pertimbangan dalam proses rekrutmen pekerjaan.
Hal itu terlihat dari angka literasi keuangan Gen Z meningkat. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan kelompok usia 18–25 tahun mencapai 73,32 persen. Sementara itu, tingkat inklusi keuangannya tercatat sebesar 95,69 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa akses generasi muda terhadap layanan keuangan sudah semakin luas. Namun, pemahaman mengenai pengelolaan keuangan yang bijak, termasuk konsekuensi dari penggunaan fasilitas pembiayaan, masih perlu diperkuat.
Padahal, laporan kredit yang tercatat dalam SLIK merupakan rekaman riwayat pembiayaan dan kepatuhan seseorang dalam memenuhi kewajiban pembayaran.
Direktur Utama Cermati, Fung Fuk Lestario, mengatakan kesadaran menjaga laporan kredit sebaiknya dibangun sejak dini. Menurutnya, masyarakat tidak seharusnya baru memeriksa rekam jejak kredit ketika membutuhkan pinjaman atau sedang mencari pekerjaan.
“Kesadaran akan pentingnya laporan kredit sebaiknya ditumbuhkan sejak dini, bukan baru disadari ketika pengajuan kredit atau mencari pekerjaan. Dengan memahami rekam jejak kredit sejak dini, masyarakat memiliki kesempatan untuk mengevaluasi kebiasaan finansialnya dan menjaga kesehatan finansialnya," jelasnya dalam siaran pers yang diterima, Jumat (6/11/2026).
Menurut Cermati, pemeriksaan laporan kredit umumnya dibutuhkan ketika seseorang mengajukan pembiayaan, mulai dari kredit kendaraan bermotor hingga kredit pemilikan rumah (KPR).
Tak hanya itu, sejumlah perusahaan juga menerapkan prinsip Know Your Employee dengan melakukan pemeriksaan BI Checking atau SLIK sebagai bagian dari proses background check terhadap calon karyawan.
Dengan demikian, rekam jejak kredit yang sehat dapat menjadi nilai tambah bagi Gen Z ketika memasuki dunia kerja maupun merencanakan kepemilikan aset pada masa mendatang.
"Melalui gerakan ini, Cermati ingin membangun pola pikir agar menjadikan pengecekan laporan kredit menjadi bagian dari rutinitas mengelola kesehatan keuangan, bukan sekadar respons terhadap kebutuhan kredit saja. Karena pengecekan Laporan Kredit, bisa dilakukan dengan mudah secara online dan instan di aplikasi cermati," terangnya.
Dia menjelaskan, laporan kredit yang sehat memiliki sejumlah manfaat yang tidak hanya berkaitan dengan urusan cicilan.
Pertama, rekam jejak finansial yang baik dapat menjadi pertimbangan positif dalam proses rekrutmen untuk posisi atau industri tertentu, terutama sektor jasa keuangan yang menerapkan pemeriksaan latar belakang dan prinsip Know Your Employee.
Kedua, laporan kredit yang bersih dapat membantu mempermudah proses pengajuan pembiayaan untuk kepemilikan aset, seperti sepeda motor, mobil, hingga rumah.
Ketiga, riwayat kredit yang terjaga juga menjadi fondasi bagi generasi muda yang mulai merencanakan kehidupan berkeluarga, termasuk membeli rumah pertama dan mempersiapkan masa depan anak.