Di Old Trafford, Rangnick memiliki pemain-pemain muda yang berorientasi menyerang dan menekan yang mungkin memiliki DNA yang dibutuhkan untuk mengaplikasikan gegenpressing-nya.
Pemain-pemain seperti Bruno Fernandes, Marcus Rashford, Jadon Sancho, Mason Greenwood, Donny van de Beek, dan Scott McTominay adalah di antara pemain muda yang kemungkinan memenuhi kriteria muda enerjik yang gemar menusuk lawan dan ngotot saat kehilangan bola seperti diinginkan Rangnick.
Pengaruh Besar
Bahkan dalam skuad Setan Merah ada sejumlah pemain yang tak terbilang muda namun selalu ngotot dan ofensif dalam bermanuver. Fred adalah salah satunya.
Rivaldo yang merupakan mantan ikon sepak bola Brazil bahkan menilai Fred memiliki mentalitas seperti diinginkan Rangnick.
Statistik pertandingan sepanjang November lalu memperlihatkan Fred adalah pemain MU yang paling sering menekan lawan sekalipun umpan dia kerap tidak akurat. Dia juga selalu bermain dalam teamwork, yang adalah nilai penting lainnya yang ditekankan Rangnick dalam gegenpressing.
Jika semua ini belum cukup, dia masih bisa mendatangkan pemain-pemain ideal dengan filosofi sepak bola yang dianutnya pada bursa transfer Januari nanti.
Faktor kedua adalah jadwal pertandingan liga yang lebih menguntungkan Man United yang dalam 13 pertandingan ke depan praktis hanya menemukan West Ham United sebagai lawan yang berpotensi merepotkan mereka.
Sebelum menghadapi derbi Manchester pada 5 Maret mendatang di mana saat itu Setan Merah mungkin sudah terbiasa dengan taktik sepak bola menekan ala Rangnick, Man United bakal menghadapi 13 tim yang hampir semuanya secara teoritis di bawah kelas mereka.
Baca Juga: Gagal Ballon d'Or, Mohamed Salah Justru Sabet Penghargaan yang Tak Dimiliki Messi
Jika mulus dalam 13 pertandingan liga ke depan, maka perhitungan poin paling optimistis yang diperoleh MU adalah 30 poin. Tetapi tidak mustahil jika mendapatkan semua 39 poin dari 13 laga itu.
Tapi masih ada kekurangan pada diri Rangnick, yakni belum pernah membawa tim yang dilatihnya menjuarai liga, rekam jejak yang justru dimiliki Louis van Gaal dan Jose Mourinho yang memang bertabur trofi juara liga, bahkan Liga Champions.
Di luar reputasinya yang ahli melesatkan tim-tim tak dikenal ke liga elite Bundesliga, sukses paling besar Rangnick dalam liga adalah membawa RB Leipzig finis urutan ketiga pada musim 2018-2019.
Rangnick juga masih asing dengan kultur sepak bola Liga Inggris, walaupun kabarnya sewaktu muda pernah studi di negara ini dan menjadi penggemar salah satu klub Inggris. Manchester United sendiri adalah klub raksasa pertama yang dia latih.
Namun pelatih yang mengawali karir kepelatihannya pada1980-an itu piawai dalam mentransformasi klub-klub yang dipimpinnya, bahkan metode sepak bolanya menginspirasi pelatih-pelatih seperti Jurgen Klopp dan Thomas Tuchel yang tengah mendominasi Liga Inggris dan bahkan Eropa, bersama Josep Guardiola.
Rangnick juga berpengaruh besar kepada dua klub Red Bull, yakni Leipzig di Jerman dan Salzburg di Austria, lewan peran pentingnya dalam proses rekrutmen pemain.
Pemain-pemain seperti Erling Haaland dan Sadio Mane bertransformasi dari bukan siapa-siapa menjadi superstar-superstar seperti sekarang berkat pria berusia 63 tahun ini.
Selain gegenpressing yang bisa membuat United berubah agresif, Rangnick diharapkan bisa melecut pemain muda Setan Merah untuk berkembang menjadi seperti Haaland dan Mane.
Atmosfer seperti ini bisa menciptakan kompetisi yang sengit di kalangan pemain MU yang ada akhirnya membuat pemain berusaha keras mengeluarkan potensi terbaiknya.
Jika berjalan seperti ini maka seharusnya bukan misi yang mustahil bagi Ralf Rangnik untuk melontarkan kembali Setan Merah ke tempat tinggi selama sisa musim ini, bahkan lebih dari sekadar masuk empat besar pun bisa. [Antara]
Tag
Berita Terkait
-
5 Fakta Final Liga Champions: Dominasi PSG, Arsenal Cuma Keren di Atas Kertas
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
PSG Dibungkam! Gol Cepat Havertz Bawa Arsenal Unggul di Final Liga Champions
-
Budapest Membara! Bentrokan Fans Arsenal vs PSG Pecah Beberapa Jam Sebelum Final Liga Champions
-
Link Streaming Final Liga Champions, Arsenal Kejar Sejarah PSG Pertahankan Takhta
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
Terkini
-
5 Fakta Final Liga Champions: Dominasi PSG, Arsenal Cuma Keren di Atas Kertas
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
PSG Dibungkam! Gol Cepat Havertz Bawa Arsenal Unggul di Final Liga Champions
-
Budapest Membara! Bentrokan Fans Arsenal vs PSG Pecah Beberapa Jam Sebelum Final Liga Champions
-
Link Streaming Final Liga Champions, Arsenal Kejar Sejarah PSG Pertahankan Takhta
-
Jelang Piala AFF 2026: Pemain Domestik Timnas Indonesia Jalani Gemblengan Fisik Ketat di Bali
-
Emmanuel Eboue Punya Misi Gila: Yakin Arsenal Bisa Rayu Kvaratskhelia Tinggalkan PSG
-
Head to Head Mikel Arteta vs Klub Prancis: Misi Hapus Kutukan Les Parisiens
-
Jelang Lawan PSG, Arteta Beri Kode Terkait Status Kebugaran Jurrien Timber
-
Bantah Rumor Miring, Manajemen Persib Tegaskan Larangan Transfer FIFA Bukan Soal Gaji