Suara.com - Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) resmi menjatuhkan sanksi terhadap Indonesia menyusul insiden diskriminatif yang terjadi pada laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 antara Timnas Indonesia melawan Bahrain, yang digelar pada 25 Maret lalu.
Sanksi ini menjadi pukulan telak bagi sepak bola nasional, khususnya dalam upaya menjaga citra dan reputasi Indonesia di mata dunia.
Dalam keterangan resmi, salah satu anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI menyatakan bahwa keputusan FIFA ini merupakan konsekuensi dari pelanggaran terhadap nilai-nilai dasar yang dijunjung tinggi oleh badan sepak bola tertinggi dunia tersebut.
FIFA dikenal sangat menjunjung prinsip kesetaraan, kemanusiaan, serta saling menghormati antar individu tanpa memandang latar belakang.
Dua Sanksi Berat dari FIFA
FIFA menjatuhkan dua jenis sanksi kepada Indonesia. Pertama, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dikenakan denda dalam jumlah signifikan, yaitu lebih dari Rp400 juta.
Kedua, Indonesia diwajibkan mengurangi kapasitas penonton sebanyak 15 persen dalam pertandingan kandang tim nasional selanjutnya.
Ini berarti akan ada pembatasan jumlah suporter yang boleh hadir secara langsung di stadion saat laga timnas digelar.
Kedua sanksi ini bukan hanya memengaruhi aspek teknis pertandingan, tetapi juga memberikan dampak psikologis dan finansial terhadap federasi dan para pendukung tim nasional.
Baca Juga: Resmi! FIFA Jatuhkan Sanksi ke Indonesia
Pengurangan kapasitas penonton berpotensi mengurangi dukungan moral secara langsung kepada tim serta memengaruhi pemasukan dari sektor tiket dan merchandise.
"Ini adalah hal yang berat yang kita terima, karena FIFA itu memiliki prinsip kesetaraan, kemanusiaan, saling menghargai dan menghormati," ujar Arya Sinulingga dalam keterangan persnya, Minggu (11/5/2025).
Tuntutan FIFA untuk Perubahan Sistemik
Tak berhenti di situ, FIFA juga memberikan instruksi kepada PSSI agar menyusun rencana aksi komprehensif yang fokus pada pencegahan tindakan diskriminatif di lingkungan sepak bola Indonesia.
Rencana ini harus mencakup upaya konkret, mulai dari edukasi hingga sistem pelaporan yang transparan bagi korban atau saksi diskriminasi di stadion.
Kewajiban membuat strategi ini menunjukkan bahwa FIFA tidak hanya fokus pada hukuman, melainkan juga ingin mendorong perubahan budaya dalam dunia sepak bola, khususnya di Indonesia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil Hybrid Paling Murah dan Irit, Cocok untuk Pemula
- 7 HP Terbaru di 2026 Spek Premium, Performa Flagship Mulai Rp3 Jutaan
- Bedak Apa yang Bikin Muka Glowing? Ini 7 Rekomendasi Andalannya
- 7 Sepatu Running Adidas dengan Sol Paling Empuk dan Stabil untuk Pelari
- Pendidikan dan Karier Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto yang Meninggal Dunia
Pilihan
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
-
Liburan Keluarga Berakhir Pilu, Bocah Indonesia Ditabrak Mati di Singapura
-
Viral Oknum Paspampres Diduga Aniaya Driver Ojol di Jakbar, Dipicu Salah Titik dan Kata 'Monyet'
-
Hasil Rapat DPR: Pasien PBI BPJS Tetap Dilayani, Pemerintah Tanggung Biaya Selama 3 Bulan
-
OJK Bongkar Skandal Manipulasi Saham, PIPA dan REAL Dijatuhi Sanksi Berat
Terkini
-
5 Pemain Keturunan Indonesia yang Berpotensi Hijrah ke Super League
-
Suporter Timnas Indonesia Bikin Kaki Gemetar, Jantung Deg-degan, Pemain Iran: Ini Final Terberat!
-
Casemiro Hengkang, Seberapa Cocok Sandro Tonali Jadi Pengganti di Manchester United?
-
Tiket Piala Dunia 2026 Terlalu Mahal! Fans Inggris Boikot, Ribuan Kursi Gak Laku Dijual
-
Komentar Gary Neville Picu Teori Konspirasi! Suporter Arsenal Tuduh Liga Inggris Diatur
-
3 Klub Super League yang Cocok untuk Adrian Wibowo, Salah Satunya Persebaya
-
Sassuolo Dipermak Inter, Fabio Grosso Blak-blakan Salahkan Jay Idzes Cs: Dia Ceroboh!
-
Intip Kontrak Adrian Wibowo, Punya Kans Ikuti Mauro Zijlstra Cs Main di Liga 1?
-
Inter Gilas Jay Idzes Cs 5-0, Chivu Lempar Kata-kata Pedas: Mereka Sempat Merepotkan tapi...
-
Rincian Denda PSSI dari AFC Gegara Suporter Terobos Lapangan di Final Piala Asia Futsal 2026