Patrick Kluivert tekankan pentingnya ketajaman penuh selama 100 menit melawan Arab Saudi.
Bola mati tetap jadi senjata Garuda, tapi bukan satu-satunya andalan.
Laga di Jeddah akan jadi ujian fisik dan mental Timnas Indonesia.
Suara.com - Timnas Indonesia akan menghadapi tantangan besar saat meladeni Arab Saudi pada laga perdana putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia di Stadion King Abdullah Sport City, Jeddah, Kamis (9/10) pukul 00.15 WIB.
Pelatih Patrick Kluivert menegaskan satu pesan penting: Garuda harus tajam lebih dari 90 menit.
Kluivert menekankan, laga kontra The Green Falcons tak bisa ditentukan hanya lewat satu momen, termasuk dari situasi bola mati yang selama ini menjadi kekuatan Timnas Indonesia.
“Kami harus tajam. Kami harus setajam pisau, tidak hanya dalam bola mati. Sepanjang pertandingan, 100 menit, Anda harus tajam,” tegas Kluivert dalam konferensi pers di Jeddah, Selasa (7/10).
Ucapan itu bukan sekadar retorika. Dalam laga-laga penting, durasi pertandingan di level internasional sering kali melampaui 90 menit, dengan tambahan waktu yang bisa mencapai 10 menit atau lebih.
Di level fisik dan mental, Kluivert menuntut skuadnya tetap fokus dan siap menekan hingga peluit akhir berbunyi.
Meski demikian, eks striker Barcelona itu tak menampik bahwa bola mati masih menjadi senjata berbahaya Indonesia.
Saat mengalahkan Taiwan 6-0 pada FIFA Match Day bulan lalu, tiga dari enam gol Garuda lahir lewat skema set piece—mulai dari sundulan Jordi Amat hingga eksekusi tajam Sandy Walsh.
“Pertandingan terakhir kami mencetak dua atau tiga gol melalui bola mati,” ujarnya.
Baca Juga: Arab Saudi Diyakini Bikin Teror Non-Teknik, Eks Pelatih Persib Minta Timnas Indonesia Waspada!
Namun, Kluivert tak ingin timnya terlalu bergantung pada satu pola. Lawan kali ini, Arab Saudi, punya organisasi pertahanan dan stamina yang jauh lebih kuat.
Timnas Indonesia datang ke Jeddah dengan kepercayaan diri tinggi setelah menorehkan catatan manis di dua pertemuan sebelumnya: imbang 1-1 di Jeddah dan menang 2-0 di Jakarta pada putaran ketiga lalu.
Namun kali ini, ujian akan jauh lebih berat karena laga dimainkan di kandang lawan dengan atmosfer publik yang penuh tekanan.
Bukan sekadar bermain cepat di awal, tapi menjaga intensitas dan fokus sepanjang laga—karena melawan tim sebesar Arab Saudi, satu detik kehilangan konsentrasi bisa berujung kehilangan poin.
Berita Terkait
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
- Mencekam! 50 Pria diduga Tentara Datangi Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Rumah Febrie Adriansyah
- Surat Edaran Rahasia Kejagung Bocor, Jaksa Diminta Waspada dan Dilarang Berkomentar soal Perkara
- Rumah Jampidsus Febrie Adriansyah Dijaga Ketat Tentara Usai Polisi Geledah Kafe deClan Signature
Pilihan
-
BREAKING NEWS: Penyidik Geledah Ruko di Cipete terkait 3 Perkara Korupsi
-
BREAKING NEWS! KPK Dikabarkan OTT Bupati Sukoharjo dan Sejumlah Orang
-
Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
-
Mobil Dinas TNI Tabrak Tiang Rambu di Depan DPR, Polisi Duga Pengemudi Microsleep
-
Bantah Isu TNI 'Serbu' Polda Metro Usai Ramai Kasus Jampidsus, Kapuspen: Waspada Provokator!
Terkini
-
Data Piala Dunia 2026: Prancis Paling Dirugikan, Argentina Paling Diuntungkan Wasit
-
Gol ke-64 Kylian Mbappe Bawa Prancis ke Babak Semifinal Piala Dunia 2026
-
Polisi dan Tentara Prancis Siaga 1 Jelang Laga Lawan Maroko: Trauma Kerusuhan 2022
-
Ricuh! Dua Jurnalis Baku Pukul di Konferensi Pers Prancis vs Maroko
-
Argentina Raja Statistik Piala Dunia 2026: Terdepan dalam Gol, Umpan, dan Akurasi
-
Resmi Jadi Pelatih Baru Chelsea, Xabi Alonso: The Blues Klub Terbaik Dunia
-
FIFA Pasang Badan! Collina Bela Putusan Kontroversial Wasit Francois Letexier
-
Di Balik Layar Piala Dunia 2026: Begini Cara FIFA Tangkis 500 Juta Serangan Siber per Hari
-
Sesaat Lagi Kick Off! Prancis vs Maroko: Duel Lini Tengah Jadi Kunci
-
Gagal di Piala Dunia 2026, Hong Myung-bo Tinggalkan Korsel: Keluarga Saya Mau Dibunuh