John Herdman menjadi pelatih asal Inggris kedua yang menangani Timnas Indonesia setelah era Peter Withe pada tahun 2004 hingga 2007.
Statistik Peter Withe dinilai kurang memuaskan karena hanya mampu membawa Indonesia jadi runner-up Piala AFF 2004 dan gagal total di edisi 2007.
John Herdman menghadapi tantangan besar untuk memperbaiki rekor pelatih Inggris di Indonesia dan membuktikan dirinya mampu mempersembahkan prestasi nyata.
Suara.com - John Herdman resmi memulai era baru sebagai juru taktik Timnas Indonesia setelah diumumkan PSSI pada Sabtu, 3 Januari 2026.
Kedatangan pelatih asal Inggris ini membawa harapan besar sekaligus membuka kembali memori publik tentang sejarah pelatih Negeri Ratu Elizabeth di skuad Garuda.
Sebelum Herdman, Timnas Indonesia ternyata pernah ditangani oleh arsitek asal Inggris lainnya, yakni Peter Withe.
Herdman dikontrak selama dua tahun hingga 2027 dengan reputasi mentereng pasca sukses membawa Timnas Kanada ke panggung dunia.
Status Herdman sebagai pelatih Inggris kedua membuat publik otomatis membandingkannya dengan rekam jejak Peter Withe yang menukangi Garuda pada periode 2004 hingga 2007.
Kala itu, Peter Withe datang ke Jakarta dengan ekspektasi setinggi langit berkat kesuksesannya membawa Thailand merajai Asia Tenggara.
Withe memiliki modal mentereng berupa medali emas SEA Games 1999 serta dua trofi Piala AFF edisi 2000 dan 2002 bersama tim Gajah Perang.
Namun, statistik dan magis Withe rupanya tidak sepenuhnya menular saat ia menangani Timnas Indonesia.
Pencapaian tertinggi Withe hanyalah mengantar Indonesia menjadi runner-up Piala AFF 2004 setelah kalah agregat dari Singapura di partai final.
Baca Juga: Statistik Rafael Struick Melempem di Dewa United, Posisi di Era Baru Timnas Indonesia Terancam?
Kekalahan dua leg dengan skor 1-3 dan 1-2 di final tersebut menjadi antiklimaks bagi performa timnas saat itu.
Performa skuad Garuda di bawah asuhan Withe justru merosot tajam pada ajang berikutnya, yakni Piala AFF 2007.
Langkah Indonesia harus terhenti secara menyakitkan lebih awal di fase grup turnamen regional tersebut.
Rapor merah Withe semakin lengkap dengan kegagalan Indonesia melangkah jauh di Kualifikasi Piala Dunia 2006 yang kandas di babak kedua.
Statistik yang naik turun dan ketiadaan trofi juara membuat era Peter Withe kerap dinilai kurang "gacor" oleh sebagian besar pecinta sepak bola Tanah Air.
Meskipun sempat memberikan harapan dengan gaya main yang berbeda, hasil akhirnya dianggap belum konsisten.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
Jelang Duel Klasik, Persija Jakarta Larang Bonek Hadir di Stadion GBK
-
Timnas Indonesia dan Malaysia Saling Sikut Dapatkan Pemain Akademi Arsenal
-
Keganasan Penyerang Indonesia Era John Herdman di Klub Masing-masing, 14 Laga 11 Gol!
-
Takut, Patrick Kluivert Berani ke Indonesia setelah Dapat Jaminan Keselamatan
-
Hansi Flick Optimistis Barcelona Bisa Comeback Lawan Atletico Madrid
-
Pelatih Persija Mauricio Souza Masih Aman dari Pemecatan
-
Arne Slot Andalkan Magis Anfield untuk Comeback Lawan PSG
-
Format FIFA ASEAN Cup 2026 Bikin Timnas Indonesia Auto Juara?
-
Jelang Duel Klasik Lawan Persija Jakarta, Striker Persebaya Surabaya Tebar Psywar
-
Eks PSM Bongkar Paspor Gate Pemain Keturunan Indonesia dan Alasan Tolak Jadi WNI