Bola / Bola Dunia
Jum'at, 13 Februari 2026 | 17:00 WIB
Ilustrasi pelatih di Piala Dunia 2026 [Suara.com]
Baca 10 detik
  • Sepanjang sejarah 22 edisi Piala Dunia, seluruh tim juara selalu dilatih oleh pelatih berkebangsaan yang sama dengan timnya.
  • Brasil dan Inggris menentang tradisi ini dengan menunjuk Carlo Ancelotti dan Thomas Tuchel sebagai pelatih asing mereka.
  • Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada akan menguji apakah tradisi dominasi pelatih lokal tetap berlanjut.

Suara.com - Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada diprediksi bukan hanya menjadi turnamen terbesar sepanjang sejarah.

Lebih dari itu, ajang empat tahuna ini juga kembali menguji tradisi yang tak pernah luntur dalam 22 edisi sebelumnya, negara juara selalu ditangani pelatih lokal.

Di tengah sepak bola klub yang kian global dan multinasional, Piala Dunia tetap tunduk pada logika identitas.

Faktor rasa memiliki, pemahaman budaya, hingga kedekatan emosional diyakini menjadi pembeda antara tim hebat dan juara sejati.

Sejarah Berpihak pada Pelatih Lokal

Sejak edisi pertama 1930, seluruh juara dunia dilatih oleh pelatih berkebangsaan sama dengan timnya. Dari Uruguay, Italia, Brasil, Jerman, hingga Argentina, pola itu tak pernah berubah.

Teranyar, Lionel Scaloni membawa Argentina juara Piala Dunia 2022. Ia melanjutkan tradisi panjang pelatih lokal yang memahami betul karakter dan kultur sepak bola negaranya.

Hal serupa terjadi pada Prancis bersama Didier Deschamps, Jerman dengan Julian Nagelsmann, Spanyol di bawah Luis de la Fuente, hingga Belanda bersama Ronald Koeman.

Daftar negara juara Piala Dunia [Suara.com]

Brasil dan Inggris Ambil Risiko Besar

Baca Juga: Belanda Resmi Tentukan Basecamp Piala Dunia 2026: Iklim Sejuk Jadi Pertimbangan

Berbeda dengan kandidat lain, Brasil dan Inggris justru menantang sejarah.

Brasil menunjuk Carlo Ancelotti untuk memimpin Selecao di 2026. Secara prestasi klub, Ancelotti tak terbantahkan.

Namun, belum pernah ada pelatih asing yang sukses membawa tim nasional juara dunia.

Publik Brasil masih terbelah. Apakah pendekatan taktis khas Eropa bisa menyatu dengan kebebasan kreatif pemain seperti Vinicius Jr?

Situasi serupa terjadi di Inggris yang kini dilatih Thomas Tuchel. Meski memulai dengan hasil impresif di kualifikasi, keputusan FA menunjuk pelatih Jerman tetap memicu perdebatan nasional.

Inggris belum juara sejak 1966, dan kini berharap pendekatan pragmatis Tuchel mampu memutus kutukan panjang.

Namun sejarah berkata lain, belum ada pelatih asing yang mampu menutup final Piala Dunia dengan trofi di tangan.

Sementara Prancis tetap bersama Deschamps, yang mengincar final ketiga beruntun.

Spanyol percaya pada regenerasi ala De la Fuente. Jerman berharap sentuhan modern Nagelsmann menghidupkan kembali mentalitas Die Mannschaft. Belanda pun mencoba bangkit bersama Ronald Koeman.

Jika sejarah kembali terulang, maka negara yang mengangkat trofi di partai final nanti adalah mereka yang dipimpin anak bangsa sendiri.

Lantas kapan Timnas Indonesia bisa dibawa pelatih lokal lolos ke Piala Dunia?'

Kontributor: Adam Ali

Load More