Bola / Bola Dunia
Kamis, 19 Februari 2026 | 07:00 WIB
Striker Real Madrid Kylian Mbappe, melontarkan tuduhan serius usai laga Liga Champions melawan Benfica di Estadio da Luz. [Instagram]
Baca 10 detik
  • Gianluca Prestianni, setelah kontroversi UCL, dikenal sering terlibat momen panas sejak usia muda.
  • Winger Argentina ini dibeli SL Benfica dari Velez Sarsfield dengan nilai transfer sekitar 8 juta euro.
  • Prestianni pernah terlibat adu fisik saat U-17 melawan Brasil dan gestur provokatif di Piala Dunia U-20.

Suara.com - Gianluca Prestianni kembali jadi sorotan usai kontroversi dengan Vinícius Júnior di ajang UEFA Champions League.

Namun sebelum insiden tersebut mencuat ke panggung dunia, winger muda asal Argentina itu ternyata sudah beberapa kali terlibat momen panas yang memantik perdebatan.

Prestianni lahir di Ciudadela, pinggiran Buenos Aires, dan menimba ilmu di akademi Vélez Sarsfield, salah satu kawah candradimuka talenta terbaik Argentina.

Sejak usia belia, ia sudah digadang-gadang sebagai pemain generasi emas. Kecepatan, kelincahan, serta keberaniannya membuat namanya mencuat bahkan sebelum debut profesional.

Sebut Vinicius Jr Monyet, Gianluca Prestianni Bikin Legenda Dunia Ngamuk: Jangan Jadi Pengecut! [Tangkap layar X]

Ia menjalani laga perdana di usia 16 tahun, lalu tak butuh waktu lama untuk menarik minat Eropa. SL Benfica disebut menggelontorkan dana sekitar 8 juta euro untuk memboyongnya.

Kontroversi bukan hal baru bagi Prestianni. Pada 2022, dalam Turnamen Montaigu U-17, Argentina menghadapi Brasil yang diperkuat Endrick.

Usai kekalahan Argentina, Prestianni terlibat adu fisik dengan pemain Brasil.

Dorongan dan pukulan terjadi di tengah emosi yang memuncak. Rekaman insiden itu viral di media sosial dan menjadi noda awal dalam karier mudanya.

Kontroversi lain muncul saat Piala Dunia U-20. Setelah mengalahkan Meksiko, Prestianni melakukan gestur provokatif ke arah lawan.

Baca Juga: Waspada Pembunuh Raksasa, Chivu Minta Inter Milan Jangan Remehkan Bodo/Glimt

Beberapa hari berselang, ketika Argentina kalah di final dari Maroko, ia kembali menunjukkan frustrasi yang sulit dikendalikan.

Kontributor: M.Faqih

Load More