Bola / Bola Indonesia
Selasa, 31 Maret 2026 | 22:30 WIB
Striker Timnas Indonesia Ole Romeny (kanan) berebut bola dengan pesepak bola Saint Kitts and Nevis, Kyle Kelly (kiri) saat pertandingan FIFA Series 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Jumat (27/3/2026). [ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/hma/wpa]
Baca 10 detik
  • Timnas Indonesia kalah 0-1 dari Bulgaria pada final FIFA Series 2026 di GBK.
  • Dominasi penguasaan bola 71% tidak berbanding lurus dengan produktivitas serangan tim Garuda.
  • Efektivitas penyelesaian akhir lini depan menjadi masalah utama yang perlu segera dievaluasi pelatih.

Suara.com - Kekalahan Timnas Indonesia dari Timnas Bulgaria di final FIFA Series 2026 menyisakan evaluasi penting.

Bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Indonesia kalah tipis 0-1.

Hasil ini membuat Garuda harus puas sebagai runner-up.

Padahal, secara permainan Indonesia tampil lebih dominan sepanjang laga.

Masalah utama justru terletak pada efektivitas lini depan.

Gol penalti Marin Petkov menjadi penentu hasil akhir.

Setelah itu, Indonesia terus menekan tanpa hasil.

Statistik menunjukkan dominasi dengan 71 persen penguasaan bola.

Akurasi umpan juga tinggi, mencapai 86 persen dari 572 percobaan.

Baca Juga: Dampak Polemik Paspor, Dean James Diparkir dari Latihan Go Ahead Eagles

Namun, dominasi itu tidak berbanding lurus dengan produktivitas gol.

Hanya empat peluang tercipta sepanjang pertandingan tersebut.

Tidak satu pun mampu dikonversi menjadi gol.

Di lini depan, Ole Romeny tampil aktif sebagai target utama.

Ragnar Oratmangoen juga agresif dengan aksi individunya.

Sementara Ramadhan Sananta menunjukkan determinasi tinggi.

Load More