- Wiljan Pluim menjelaskan alasan dirinya menolak naturalisasi menjadi WNI meski sempat didorong oleh klub dan federasi sepak bola Indonesia.
- Pluim mengkritik adanya kebijakan pembiaran terkait polemik paspor ganda yang melibatkan sejumlah pemain keturunan di kompetisi sepak bola Belanda.
- Kasus paspor ini memicu kekhawatiran karena ketidakjelasan aturan serta janji-janji yang diberikan kepada pemain terkait kewarganegaraan ganda di masa lalu.
Pluim memahami bahwa status WNI memberi keuntungan besar, termasuk peluang memperkuat tim nasional serta terbebas dari kuota pemain asing di liga.
"Ya. Mereka pada awalnya tentu melakukan itu untuk bisa bermain di tim nasional. Dan dari situ juga menjadi lebih mudah untuk akhirnya pergi ke Indonesia. Sebagai pemain asing, tidak selalu mudah untuk mendapatkan tempat," terang Pluim.
"Sekarang memang sudah lebih banyak, tetapi di masa lalu sebenarnya hanya ada tiga pemain asing yang bisa bermain per klub. Jadi, itu memang cukup menarik bagi para pemain saat itu. Dengan memiliki paspor Indonesia, kamu tentu meningkatkan nilai dirimu. Setidaknya di Indonesia, kamu langsung menjadi jauh lebih bernilai."
"Jadi, bagi sebagian pemain itu mungkin menjadi pilihan. Namun, bagi saya tidak, karena saya sudah bermain beberapa tahun dan tidak banyak lagi yang harus saya buktikan atau untuk meningkatkan nilai saya. Jadi, saya merasa lebih baik tidak mengambilnya dan pada akhirnya kembali," paparnya.
Terkait isu paspoortgate, Pluim mengaku sudah lebih dulu membicarakan potensi masalah ini dengan Anco Jansen sebelum kasusnya mencuat ke publik.
"Saya memang pernah menyinggungnya. Saya juga pernah membicarakannya, kalau tidak salah dengan Anco. Pada akhirnya memang tidak diperbolehkan, tetapi ada pemain yang tetap bermain di sini sekarang," kata Pluim.
"Saya pikir semuanya sedikit banyak merupakan kebijakan pembiaran, juga dari pihak Indonesia, bagaimana hal itu disampaikan. Dari agen yang bersangkutan, yang seperti disebutkan Anco tadi, punya peran besar dalam hal itu."
"Saya pikir semuanya berjalan dengan semacam janji-janji yang tidak sepenuhnya benar, seperti, 'Selama tidak dibicarakan maka tidak akan terlihat, tidak ada yang akan membahasnya, dan kamu bisa terus menjalani kariermu', Sampai akhirnya NAC Breda mulai waspada," ujarnya.
Menurut Pluim, situasi ini tidak sepenuhnya menjadi kesalahan pemain. Ia melihat adanya celah regulasi yang membuat kasus ini berkembang.
Baca Juga: Format FIFA ASEAN Cup 2026 Dirilis, Peluang Timnas Indonesia Juara Terbuka Lebar
"Tidak, tetapi saya berpikir bahwa ini terutama terjadi karena federasi Indonesia menerapkan kebijakan pembiaran dan mereka hanya mengatakan bahwa secara normal hal ini tidak diperbolehkan," ucap Pluim.
"Sebagai negara, mereka juga tidak melakukan ini. Namun, dalam situasi ini, dengan target lolos ke Piala Dunia, mereka pada akhirnya mungkin menjanjikan hal-hal yang juga tidak mereka duga akan menimbulkan masalah di kemudian hari."
"Sulit untuk mengatakannya secara pasti, tetapi saya tidak berpikir para pemain benar-benar dijebak," pungkasnya.
Tag
Berita Terkait
-
Format FIFA ASEAN Cup 2026 Dirilis, Peluang Timnas Indonesia Juara Terbuka Lebar
-
Bukan Hanya Malaysia, Timnas Indonesia Juga Bisa Naturalisasi Produk Akademi Arsenal
-
Tanpa Kiper Eropa, Ini 4 Penjaga Gawang Lokal yang Siap Jadi Benteng Timnas Indonesia di Piala AFF
-
Skandal Paspor Juga Muncul di Belgia, Ragnar Oratmangoen dan Joey Pelupessy Gimana Nasibnya?
-
Penuh Visi, John Herdman Dorong Transformasi Sistem Pembinaan Usia Dini
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
Format FIFA ASEAN Cup 2026 Dirilis, Peluang Timnas Indonesia Juara Terbuka Lebar
-
Asap Hitam Menyelimuti Kota Rio, Kebakaran Hebat Stadion Picu Kepanikan Warga
-
Leicester City Resmi Mendapat Pengurangan 6 Poin usai Banding Ditolak
-
Bukan Hanya Malaysia, Timnas Indonesia Juga Bisa Naturalisasi Produk Akademi Arsenal
-
Bojan Hodak Berpotensi Cabut dari Persib Jika Hal Ini Tak Tercapai
-
Wasit Jadi Sorotan! Hector Souto Kritik Keras Kepemimpinan Wasit Laga AFF
-
Alasan Mohamed Salah Dicadangkan Saat Arne Slot Pilih Taktik Bertahan Lawan PSG
-
NAC Breda Tak Terima Dean James Bebas Masalah Paspor, Ajukan Banding ke KNVB
-
Lolos ke Semifinal, Timnas Futsal Indonesia Sudah Capai Target di Piala AFF Futsal 2026
-
Piala AFF Futsal 2026: Indonesia akan Kesusahan Lawan Vietnam