Bola / Bola Indonesia
Minggu, 24 Mei 2026 | 20:26 WIB
Head Coach MilkLife Soccer Challenge, Timo Scheunemann. [Dok. Istimewa]
Baca 10 detik
  • MilkLife Soccer Challenge 2025-2026 di Kudus dan Malang sukses melahirkan juara baru dari berbagai kategori sekolah dasar.
  • Pelatih Timo Scheunemann menekankan pentingnya pembentukan karakter dan kecintaan siswi terhadap sepak bola daripada sekadar meraih trofi.
  • Para pemain berbakat dari Kudus dan Malang akan dipersiapkan memperkuat tim All-Star menuju kompetisi tingkat nasional mendatang.

Suara.com - Gelaran MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Seri 2 2025–2026 di Kota Kudus dan Malang resmi berakhir dengan melahirkan deretan juara baru yang tampil impresif di lapangan hijau.

Namun, di balik riuh rendah selebrasi juara, Pelatih Kepala MilkLife Soccer Challenge, Timo Scheunemann, mengirim pesan kuat mengenai arah masa depan sepak bola putri Indonesia.

Coach Timo menegaskan bahwa fokus utama dalam membangun tim nasional putri yang tangguh di masa depan tidak boleh hanya terpaku pada raihan trofi instan.

Bagi pria yang akrab disapa Coach Timo itu, proses pembentukan karakter dan kecintaan siswi terhadap sepak bola jauh lebih berharga dibanding sekadar kemenangan di papan skor.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi standar baru bagi sekolah dan pelatih daerah dalam membina atlet muda agar tidak membebani mental anak sejak usia dini.

Fondasi Cinta dan Karakter di Lapangan

Aksi Adelice Maureen Hanum Faisal, Pemain SDN Lowokwaru 3 yang juga menjadi top scorer dengan 36 gol pada KU 12 Milklife Soccer Challenge Malang Seri 2 2025-2026. [Dok. MLSC]

Timo menjelaskan bahwa seleksi pemain yang dilakukannya selama turnamen tidak hanya mengacu pada kemampuan teknis mengolah si kulit bundar.

Ia menilai bakat seorang pemain baru bisa berkembang maksimal apabila sang atlet memiliki disiplin latihan tinggi dan rasa bahagia saat bermain.

“Prestasi itu memang penting, tapi yang tidak kalah penting adalah konsistensi para siswi dalam latihan,” tutur Timo.

Baca Juga: Timnas Putri Indonesia Alami Penurunan Ranking FIFA

Menurutnya, ketika kemampuan teknik dasar meningkat, rasa percaya diri dan kesenangan bermain sepak bola akan tumbuh dengan sendirinya.

“Ketika kemampuan mereka meningkat, mereka akan semakin senang bermain sepak bola. Dari situ baru digali potensi dan bakatnya,” lanjut pelatih berpengalaman tersebut.

Timo juga mendorong pihak sekolah untuk menjadikan sepak bola sebagai sarana pembentukan mental yang sejalan dengan nilai-nilai pendidikan.

Kudus dan Malang Jadi Sorotan Pembinaan

Timo melihat adanya perbedaan kematangan pembinaan antara dua kota penyelenggara, di mana Kudus kini telah memiliki fondasi sepak bola putri yang sangat mapan.

Sebagai kota pertama penyelenggara MLSC, Kudus dinilai berhasil menjaga ritme pertumbuhan sepak bola putri secara konsisten selama tiga tahun terakhir.

Load More