Bola / Bola Dunia
Senin, 01 Juni 2026 | 19:03 WIB
Timnas Haiti
Baca 10 detik
  • Skuad Timnas Haiti berhasil lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam 50 tahun terakhir.

  • Keberhasilan ini diraih di tengah hancurnya fasilitas olahraga domestik akibat pendudukan geng bersenjata.

  • Sepak bola menjadi alternatif krusial untuk menyelamatkan anak-anak Haiti dari rekrutmen milisi kriminal.

Suara.com - Tiket putaran final Piala Dunia 2026 berhasil diamankan oleh Timnas Haiti setelah penantian panjang selama lebih dari setengah abad.

Prestasi historis ini menjadi oase di tengah hancurnya fasilitas olahraga dan matinya ruang publik akibat perang saudara.

Keberhasilan membungkam Nikaragua di Curaçao memicu perayaan masif warga di jalanan ibu kota Port-au-Prince yang biasanya dicekam ketakutan.

Hasil pembagian grup Piala Dunia 2026 resmi dirilis. Grup I dipastikan jadi grup neraka yang berisikan Prancis, Norwegia, Senegal, dan Irak. Cek daftarnya! [Dok. Philadelphia Soccer 2026]

Momentum kelolosan ini sekaligus mematikan sekat konflik yang selama ini memecah belah negara kepulauan Karibia tersebut.

"Sudah lama sekali Anda tidak melihat rakyat Haiti bersatu seperti ini," kata Louicius Deedson, gelandang berusia 25 tahun yang mencetak gol kemenangan.

Keberhasilan ini tergolong ajaib mengingat skuad Les Grenadiers terpaksa menggelar pemusatan latihan di Florida dan New Jersey akibat situasi domestik yang tidak aman.

PBB mencatat hampir 90 persen wilayah ibu kota kini dikuasai oleh kelompok kriminal bersenjata, termasuk area sekitar Stadion Sylvio Cator yang legendaris.

Bukan Prancis atau Argentina, Simulasi Matematika Prediksi Negara Ini Juara Piala Dunia 2026 [Istimewa]

Stadion bersejarah yang dulunya menjadi saksi bisu kejayaan sepak bola kini beralih fungsi menjadi kamp pengungsian warga.

Masyarakat mencari perlindungan di sana setelah rumah mereka dibakar dan jalur pasokan logistik kota diputus oleh kelompok milisi.

Baca Juga: Cristiano Ronaldo Jadi Beban? Pundit Sebut Portugal Lebih Berbahaya Tanpa CR7

Situasi mencekam ini membatasi ruang gerak para pemandu bakat internasional untuk memantau talenta lokal secara langsung ke stadion.

Ketakutan kolektif ini juga menutup kesempatan bagi anak-anak lokal untuk mengakses fasilitas latihan yang layak dan mengejar mimpi mereka.

"Saya pikir pindah ke AS adalah hal terbaik bagi saya saat ini," ujar Deedson kepada CNN, mengenang keputusannya bermigrasi saat remaja.

Mayoritas pilar tim nasional saat ini lahir dan berkarier di Eropa, sementara sang pelatih asal Prancis bahkan dilarang masuk ke Haiti.

Di tengah dominasi pemain diaspora, Woodensky Pierre muncul sebagai satu-satunya penggawa dari kompetisi domestik yang menembus skuad utama.

Pierre tumbuh di Cite Soleil, wilayah kumuh yang menjadi pusat pertempuran hingga memaksa lembaga kemanusiaan MSF angkat kaki.

Load More