- Timnas Prancis menjadi tim paling dirugikan di Piala Dunia 2026 akibat rasio kartu kuning yang tidak seimbang.
- Prancis menerima satu kartu kuning setiap 12,3 pelanggaran, sedangkan lawan mereka rata-rata baru dihukum setelah 22,5 pelanggaran.
- Data statistik menunjukkan wasit cenderung lebih tegas menghukum Prancis dibandingkan tim lain saat babak 16 besar berlangsung.
Suara.com - Timnas Prancis menjadi sorotan dalam Piala Dunia 2026, bukan hanya karena performa di lapangan, tetapi juga terkait keputusan wasit.
Sebuah statistik seperti dikutip dari RMC Sport, menunjukkan Les Bleus menjadi tim yang paling keras dihukum dibandingkan kontestan perempat final lainnya.
Data tersebut mengungkap rasio kartu kuning terhadap jumlah pelanggaran.
Prancis menerima satu kartu kuning setiap 12,3 pelanggaran, sementara lawan mereka baru mendapat kartu setelah rata-rata 22,5 pelanggaran.
Perbedaan ini semakin terasa saat Prancis menghadapi Paraguay di babak 16 besar.
Dalam laga tersebut, Paraguay melakukan 13 pelanggaran tanpa satu pun kartu kuning, sementara Prancis sudah diganjar tiga kartu dari 11 pelanggaran.
Situasi ini memicu reaksi dari publik dan pendukung Prancis.
Banyak yang menilai wasit terlalu permisif terhadap permainan keras lawan, namun lebih tegas saat menghukum Prancis.
Jika dibandingkan dengan tim lain, Prancis berada di posisi paling dirugikan dengan selisih minus 10,2 dalam rasio kartu.
Baca Juga: Polisi dan Tentara Prancis Siaga 1 Jelang Laga Lawan Maroko: Trauma Kerusuhan 2022
Inggris menjadi satu-satunya tim lain yang juga mencatat selisih negatif, meski tidak sebesar Prancis.
Sebaliknya, Argentina dan Spanyol justru dianggap lebih diuntungkan.
Kedua tim ini bisa melakukan lebih banyak pelanggaran tanpa cepat mendapatkan kartu, sementara lawan mereka relatif mudah dihukum.
Argentina, misalnya, baru menerima kartu kuning setiap 19,7 pelanggaran.
Namun lawan mereka sudah mendapat kartu hanya dalam rata-rata 5,4 pelanggaran.
Berita Terkait
-
Polisi dan Tentara Prancis Siaga 1 Jelang Laga Lawan Maroko: Trauma Kerusuhan 2022
-
Ricuh! Dua Jurnalis Baku Pukul di Konferensi Pers Prancis vs Maroko
-
Argentina Raja Statistik Piala Dunia 2026: Terdepan dalam Gol, Umpan, dan Akurasi
-
FIFA Pasang Badan! Collina Bela Putusan Kontroversial Wasit Francois Letexier
-
Di Balik Layar Piala Dunia 2026: Begini Cara FIFA Tangkis 500 Juta Serangan Siber per Hari
Terpopuler
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- 5 Sepatu Lari yang Nyaman untuk Jalan Jauh, Sol Empuk Bisa Buat Traveling
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
Pilihan
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
Terkini
-
BEM Persatuan se-DKI Ajak AMPB Jaga Ruang Demokrasi Jelang Aksi di DPR
-
Situasi Terbaru Bukit Serelo Lahat Terbakar, Karhutla Diperkirakan Capai 350 Hektar
-
Program KPR Renovasi BRI, Ketentuan Suku Bunga Ringan dan Tenor Panjang
-
Dari Kebab ke QRIS, Cerita Farhan Kebab Tumbuh Bersama Bank Sumsel Babel
-
Amnesty International Soroti Kemunduran Demokrasi: Banyak Partai, tapi Suaranya Satu
-
Panas Bumi Jadi Andalan Transisi Energi, Pemerintah Dorong Pemanfaatannya Lebih Cepat
-
Katarak Kongenital pada Anak dan Pentingnya Deteksi Sejak Dini
-
Semarak Turnamen Bulu Tangkis di Mall Solo, 219 Peserta Ikut Bertanding
-
Komunikasi Politik Prabowo Dinilai Kerap Blunder, Akademisi: Bisa Rugikan Pemerintah
-
PTBA Hadir untuk NTT, Salurkan Bantuan bagi Warga Terdampak Bencana