Suara Denpasar – Stadion Jatidiri, home base PSIS Semarang sudah mendapatkan nilai dengan kategori sangat baik berdasarkan hasil re-risk assessment kedua yang dilakukan Polda Jateng Polrestabes Semarang.
“Alhamdulillah berdasarkan hasil re-risk assessment yang kedua, venue Stadion Jatidiri mendapatkan nilai 88,73 dengan kategori sangat baik,” tulis akun Instagram @psisfcofficial, sebagaimana dikutip Suara Denpasar, pada Jumat (9/6/2023).
Penilaian ini ditilik dari berbagai aspek, mulai dari infrastruktur, keamanan dan keselamatan, kesehatan, serta informasi.
Dengan hasil tersebut, PSIS Semarang tentu perlu berbangga hati. Sebab sebelumnya, venu Stadion Jatidiri hanya mendapatkan nilai 58,33 di putaran kedua musim lalu.
Kendati memperoleh nilai tinggi, namun pendapatan klub Yoyok Sukowi tampaknya bisa saja mengalami penurunan saat bermain di kandang Stadion Jatidiri.
Penyebabnya adalah adanya regulasi baru dari PSSI terkait aturan yang harus dipatuhi PSIS Semarang maupun klub-klub lain saat menjadi tuan rumah.
Regulasi yang dimaksud itu ialah aturan pangkas kursi yang kemungkinan besar bakal menyebabkan pendapatan klub Yoyok Sukowi anjlok.
Dilansir dari semarang.suara.com, PSSI dikabarkan akan menerapkan regulasi kapasitas stadion kandang PSIS Semarang dan klub Liga 1 lainnya jadi dipakai setengahnya saja, yang artinya hanya 50 persen penonton yang bisa hadir.
Kabar ini bahkan disampaikan langsung Ketua Umum PSSI Erick Thohir beberapa waktu lalu saat ditemui sejumlah wartawan.
Baca Juga: Asing Baru PSIS: Yoyok Sukawi Ajak Boubakary Diarra Nonton Mahesa Jenar vs Persik Kendal, Deal?
“Kita ini liganya melewati tahun politik ya. Itu juga sudah ada kesepakatan, bahkan kamu sudah bicarakan bagaimana keamanannya. Itu (penonton yang boleh hadir di stadion) hanya 50 persen nanti,” ungkap Erick Thohir.
Bagi PSIS Semarang hal ini tentu akan berbeda. Sebab musim lalu mereka bisa mengumpulkan 60 persen tiket penonton dari seluruh kapasitas stadion dan itu menjadi pundi-pundi keuangan klub.
Namun, dengan regulasi tersebut, maka keuangan PSIS Semarang bisa saja menjadi turun dari pendapatan tiket musim lalu.
Belum lagi, mereka nantinya tidak bisa menjual tiket pada suporter tim tamu, imbas dari peraturan pelarangan suporter away dari PSSI.
Jika diilustrasikan kapasitas kandang PSIS Semarang mencapai 25.000 kursi, maka musim ini yang boleh digunakan hanya 12.500 tempat duduk.
Di musim lalu, tiket nonton PSIS Semarang terbagi tiga kategori, yaitu Rp75 ribu untuk tribun utara dan selatan, Rp120 ribu untuk tribun timur, dan Rp200 ribu untuk tribun barat.
Jika diambil dari harga termurah Rp75 ribu untuk 12.500 kursi penonton, maka pendapatan minimal mencapai Rp937,5 juta.
Sedangkan di musim lalu dengan kalkulasi 60 persen kursi penonton atau diandaikan sekitar 15.000, maka bila dihitung dengan tiket termurah saja bisa mencapai 1,12 miliar.
Karena itulah, pemasukan tiket klub Yoyok Sukowi antara musim lalu dan musim ini bisa mengalami penurunan ratusan juta rupiah. (*/Ana AP)
Berita Terkait
-
Menanti Ketegasan PSIS Semarang untuk Carlos Fortes dan Vitinho, Bruno Silva Jilid 2?
-
Bawa Tokyo Verdy Menang, Awal Pratama Arhan Jadi Starter Seterusnya? Lemparan Eks Wonderkid PSIS Dapat Sanjungan
-
Pratama Arhan Unjuk Gigi, Fans Tokyo Verdy Sebut Eks PSIS Semarang Rory Delap Indonesia?
-
Eks Pemain PSIS Semarang Pratama Arhan Jadi Pahlawan, Netizen Indonesia Salahkan Tokyo Verdy Karena Ini
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
Terkini
-
Tiga Tahun Disekap Kekasih di Bandung, Pesan Kabar Baik ke Keluarga Ternyata Akal-akalan Pelaku
-
Ancol Kaji Hapus Tiket Per Orang, Siapkan Skema 'Special Zone' Berbasis Parkir
-
Program Bantuan Pangan Beras 10 Kg & Subsidi Kedelai Dilanjutkan, Anggaran Rp 17,54 T
-
Tok! Bos BJU Divonis 8 Tahun Penjara di Kasus Korupsi LPEI
-
Saling Dorong di Depan DPR! Polisi Paksa Padamkan Simbol 'Kematian' Pemerintah Milik Mahasiswa
-
Mahasiswa Desak Presiden Prabowo Copot Natalius Pigai dari Kursi Menteri
-
Karangan Bunga Hitam Putih KDM di HUT Jakarta Curi Perhatian, Ketua DPRD DKI: Unik
-
Pramono Anung: Jakarta Dirancang Jadi Kota Global yang Ramah Warga
-
Dirampok Rp3,5 Juta, Diikat lalu Dibakar Hidup-Hidup, Petani di OKU Selatan Tewas
-
DPR Bukan Tukang 'Stempel' Pemerintah! Saan Mustopa Kalim Fungsi Kontrol Parlemen Tetap Tajam