Matamata - Sebagai pekerja jasa, dokter dituntut untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pasiennya. Menghadapi orang yang bermasalah dengan kesehatannya, dokter diharapkan untuk bersikap ramah dan sabar.
Namun bagaimanapun juga, dokter juga manusia biasa yang bisa bingung, bahkan kesal jika menghadapi pasien-pasien tertentu. Jika sudah begitu, ada kalanya dokter mengalami kesulitan untuk melakukan tindakan medis dan memberikan obat yang tepat untuk si pasien.
Berikut ini 7 tipe pasien yang bisa membuat dokter kesal seperti dirangkum oleh The Daily Beast. Menarik untuk disimak, supaya Anda tidak menjadi seperti salah satu di antaranya.
1. Pasien yang hanya tahu warna obat, tapi tidak tahu mereknya
Pasien tipe ini biasanya bingung saat ditanyai dokter soal obat apa yang sudah mereka minum. "Itu tuh dok, pil kecil yang warnanya biru" atau "kapsul kuning itu lho dok" adalah jawaban yang kerap dilontarkan pasien. Dokter memang hafal obat di luar kepala, tapi tentu mereka tidak diajari bahwa warna dan bentuk tertentu dapat diasosiasikan dengan merek obat tertentu. Jadi, bagi para pasien, usahakan untuk tahu obat apa yang sudah diminum dan catatlah, sehingga dokter tidak salah melakukan tindakan medis.
2. Pasien yang tidak sabaran
Pasien terkadang merasa sudah menunggu terlalu lama, sementara dokter yang diharapkan tidak kunjung datang. Tak jarang pasien meluapkan amarah kepada dokter yang terlambat. Ketahuilah, sebenarnya para dokter pun tahu waktu pasien sangatlah berharga. Namun, mereka juga butuh waktu untuk mengambil hasil pemeriksaan lab, atau keperluan lain menyangkut pemeriksaan pasien. Tentu Anda ingin agar dokter tidak buru-buru dan asal-asalan menangani keluhan Anda bukan?
3. Pasien yang ingin cepat-cepat diurus dokumennya
Setelah berobat ke dokter, biasanya ada surat-surat yang harus diurus, entah itu surat ijin sakit, dokumen asuransi, dan sebagainya. Seringkali ada pasien yang menuntut agar dokter segera membuatkan dokumen-dokumen semacam itu. Padahal dokter juga punya banyak urusan lain yang harus ditangani, termasuk pasien lainnya. Jadi, lagi-lagi, bersabarlah, beri sedikit ruang bagi dokter Anda.
4. Pasien yang suka "nambah" keluhan
Tipe pasien ini juga tidak disukai dokter. Mereka ini biasanya menambah keluhan saat konsultasi sudah berakhir, bahkan setelah dokter melakukan diagnosa dan memberikan resep. Dokter punya prosedur tertentu dalam memeriksa, melakukan pengetesan dan menentukan tindakan medis. Kalau tidak semua keluhan diungkap dari awal, tentu hal itu membuat mereka kerepotan.
5. Pasien lansia yang dibiarkan berkonsultasi sendiri
Untuk poin ini, bukan si pasienlah yang membuat dokter kesal, melainkan si pengantar pasien. Biasanya hal ini terjadi pada pasien yang sudah tua dan pikun. Terkadang, pasien ini diantar oleh kerabat, ataupun orang lain yang cuek. Alih-alih menemani si pasien selama berkonsultasi dengan dokter, si pengantar justru tidak ikut ke ruang dokter. Padahal, orang tua, apalagi yang sudah pikun, kerap mengalami kesulitan mengingat penjelasan dan pengobatan yang diberikan dokter. Beberapa bahkan sulit mengutarakan keluhan mereka.
6. Pasien yang sok tahu
Dokter menghargai pasien yang punya perhatian besar pada kesehatan mereka dan aktif mencari informasi dari media, termasuk internet. Tapi, terkadang pasien semacam ini terkesan "sok tahu" di depan dokter, dan justru merasa lebih tahu dari dokter. Ada baiknya pasien seperti ini memberitahukan sumber informasi yang mereka dapat, supaya dokter juga bisa memberi arahan dari sudut pandangnya.
7. Pasien yang tidak jujur
Dokter ingin sekali agar pasien mereka jujur. Misalnya saja, jika pasien kehabisan uang untuk membeli obat tertentu yang diresepkan dokter dan terpaksa minum obat lain, atau jika pasien merasakan rasa sakit mencurigakan atau menemukan benjolan di bagian tubuh tertentu. Jujurlah, niscaya dokter akan membantu pasien mencari pengobatan yang tepat. (The Daily Beast)
Berita Terkait
-
Emiten Teknologi ELIT Tahan Dividen untuk Ekspansi Bisnis
-
Ayah Lionel Messi Meninggal di Tengah Piala Dunia 2026? Keluarga Buka Suara
-
Ronaldo soal Tak Main Bagus : Portugal Bisa Saja Menang, Tapi...
-
PGN-BRIN Kembangkan Minapadi Salin, Bidik Hasil Padi 7 Ton per Hektare
-
Panggil Seluruh Bos Himbara, Prabowo Tagih Peran Himbara ke Ekonomi
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
- 7 Sunscreen Flek Hitam untuk Usia 50 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
Terkini
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance
-
Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum
-
Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun
-
Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut