Suara.com - Sering mengonsumsi ikan akan mengurangi risiko depresi, demikian hasil sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Epidemiology & Community Health pada Kamis (10/9/2015).
Temuan itu didasarkan pada analisis terhadap 26 penelitian yang melibatkan 150.278 orang di Eropa, Amerika Utara, Asia, Oseania, dan Amerika Selatan. Dalam penelitian-penelitian itu para ilmuwan mencari hubungan antara depresi dan tingkat konsumsi ikan.
Dalam riset di Eropa, khususnya, para ilmuwan menemukan bahwa risiko mengalami depresi pada orang yang sering mengonsumsi ikan 17 persen lebih rendah ketimbang mereka yang jarang mengonsumsi ikan.
"Konsumsi ikan dalam jumlah besar bisa menjadi cara utama untuk mencegah depresi," tulis para peneliti.
Ketika menganalisis data itu berdasarkan perbedaan jenis kelamin, para peneliti menemukan bahwa risiko depresi turun 20 persen pada lelaki yang sering mengonsumsi ikan. Sementara pada perempuan risiko itu turun 16 persen.
Meski demikian, para peneliti mengatakan bahwa hubungan antara konsumsi ikan dengan turunnya risiko depresi hanya ditemukan dalam studi yang digelar di Eropa. Hubungan itu tak ditemukan dalam studi di belahan dunia lain.
"Ini mungkin karena jumlah responden yang lebih sedikit, sehingga hasil analisis statistik tidak menelurkan hasil yang signifikan," kata Fang Li dari Universitas Qingdao, Cina, yang terlibat dalam riset itu.
Li juga mengatakan bahwa riset itu perlu diperkaya lagi karena para peneliti tidak bertanya tentang jenis ikan yang dikonsumsi oleh para responden. Demikian juga riset itu tak menjelaskan mengapa mengonsumsi ikan bisa mengurangi risiko depresi.
Tetapi ia menduga bahwa ada beberapa kandungan dalam ikan yang bisa memengaruhi otak. Misalnya sebuah penelitian lawas pernah menemukan bahwa omega-3 dalam ikan bisa mengubah struktur sel membran otak.
Kemungkinan lain, kata Li, turunnya risiko depresi pada orang yang mengonsumsi ikan disebabkan oleh tubuh mereka yang memang lebih sehat.
"Orang yang mengonsumsi ikan biasanya lebih sehat karena punya asupan nutrisi lebih bergizi, dan ini bisa menjadi faktor penyebab rendahnya risiko depresi," tutup dia. (Live Science)
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Biodata dan Agama DJ Patricia Schuldtz yang Resmi Jadi Menantu Tommy Soeharto
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- 5 Sepatu Jalan Lokal Terbaik Buat Si Kaki Lebar Usia 45 Tahun, Berjalan Nyaman Tanpa Nyeri
- DPUPKP Catat 47 Hektare Kawasan Kumuh di Kota Jogja, Mayoritas di Bantaran Sungai
Pilihan
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
-
Mengapa Purbaya Tidak Pernah Kritik Program MBG?
-
Kuburan atau Tambang Emas? Menyingkap Fenomena Saham Gocap di Bursa Indonesia
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
Terkini
-
Gaya Hidup Sedentari Tingkatkan Risiko Gangguan Muskuloskeletal, Fisioterapi Jadi Kunci Pencegahan
-
Hati-hati saat Banjir! Jangan Biarkan 6 Penyakit Ini Menyerang Keluarga Anda
-
Pankreas, Organ yang Jarang Disapa Tapi Selalu Bekerja Diam-Diam
-
Perawatan Kulit Personal Berbasis Medis, Solusi Praktis di Tengah Rutinitas
-
Implan Gigi Jadi Solusi Modern Atasi Masalah Gigi Hilang, Ini Penjelasan Ahli
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin