Suara.com - Pada artikel sebelumnya disebutkan bahwa jajanan anak seperti agar-agar jeli, permen, cilok, dan keripik mengandung bahan kimia berbahaya yang bila dikonsumsi terus menerus bisa membahayakan kesehatan anak.
Survei Badan POM 2007 menyebutkan bahwa sekitar 45 persen jajanan anak berbahaya, baik akibat cemaran fisik, mikrobiologi, dan kimia seperti pewarna tekstil.
Mengetahui fakta ini para orangtua pasti cemas. Oleh karena itu, ada baiknya Anda waspada terhadap jajanan yang berpotensi membahayakan kesehatan buah hati.
Berikut adalah bagian terakhir dari jajanan anak yang harus diwaspadai setelah ditinjau oleh dr. Deffy Leksani Anggar Sari, salah satu konsultan dari Meet Doctor.
5. Es limun atau sirup
Umumnya, limun atau sirup mengandung gula buatan fruktosa seperti telah dipaparkan di atas. Banyak juga produk sirup yang mengandung pewarna buatan yang berbahaya.
Warna merah pada es limun ternyata kebanyakan berasal dari, lagi-lagi, pewarna Rhodamin B, yang sama sekali tidak boleh ada dalam makanan yang berpotensi mengembangkan sel-sel kanker.
Rhodamin B juga disinyalir dapat merusak hati. Pada uji terhadap mencit, diperoleh hasil; terjadi perubahan sel hati dari normal menjadi nekrosis dan jaringan disekitarnya mengalami disintegrasi atau disorganisasi.
Kerusakan pada jaringan hati ditandai dengan terjadinya piknotik (sel yang melakukan pinositosis) dan hiperkromatik (pewarnaan yang lebih kuat dari normal) dari nukleus. Batas antar sel tidak jelas, susunan sel tidak teratur dan sinusoid tidak utuh.
Semakin tinggi dosis yang diberikan, maka semakin berat sekali tingkat kerusakan jaringan hati mencit. Secara statistik, terdapat perbedaan yang nyata antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan dalam laju rata-rata pertambaan berat badan mencit.
Rhodamin B merupakan pewarna sintetis berbentuk serbuk kristal merah keunguan yang jika dilarutkan akan menghasilkan warna merah terang. Rhodamin juga ditemukan di biji merah delima dan gulali.
Selain Rhodamin B, pewarna berbahaya lain yang biasa ditemukan pada makanan anak, salah satunya adalah Methanil Yellow. Penghasil warna kuning kecokelatan ini aslinya merupakan pewarna tekstil dan cat, biasa ditambahkan pada kerupuk bawang dan ice cone. Seperti Rhodamin B, Methanil yellow juga dilarang oleh Departemen Kesehatan RI karena berpotensi menyebabkan keracunan dan gangguan hati.
6. Sosis dan nugget
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa daging olahan dapat memicu kanker alias karsinogenik. Di antara daftar daging olahan penyebab kanker ialah bacon, sosis, daging ham, daging kalengan dan sebagainya.
Daging olahan penyebab kanker didefinisikan oleh WHO sebagai "daging yang sudah mengalami perubahan lewat penggaraman, fermentasi, pengasapan, atau pengawetan", atau cara lainnya untuk meningkatkan rasa atau mengawetkannya sehingga masa simpannya lebih panjang.
Proses transformasi tersebut biasanya dengan menambahkan zat-zat kimia pada daging, atau dalam penyajiannya yang tanpa sengaja menambahkan zat kimia.
Zat tambahan itu akan mengubah daging menjadi bersifat karsinogen, baik saat pembuatan atau pemasakan. Sebagai contoh, nitrit yang sering ditambahkan sebagai pengawet daging.
International Agency for Research on Cancer (IARC), lembaga riset kanker di bawah WHO, mengelompokkan nitrat dan nitrit ke dalam "kemungkinan karsinogen pada manusia" karena saat daging yang memiliki kandungan zat itu digoreng atau dibakar di suhu tinggi, bisa berubah menjadi N-nitroso, seperti nitrosamin, yang memang bersifat karsinogen.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi