Suara.com - Orangtua mana yang tidak senang melihat buah hatinya tumbuh menjadi balita yang gemuk nan menggemaskan. Seringkali balita gemuk juga menjadi objek pujian, karena dianggap sehat dan bergizi baik.
Padahal, dibalik pipi 'chubby' yang menggemaskan dari balita bertubuh gemuk, ada risiko kesehatan yang mengintainya jika tak diintervensi sejak dini.
Dokter spesialis kedokteran olahraga, dr. Indrarti Soekotjo, SpKO mengatakan, anak yang gemuk mengalami penumpukan sel lemak di bawah kulit maupun jaringan organ. Kondisi ini pada gilirannya dapat mengundang berbagai risiko penyakit seperti diabetes, jantung hingga stroke saat anak tumbuh dewasa.
"Ini sebabnya penyakit kardiovaskular tidak lagi diderita orang berusia 50-an ke atas. Usia-usia muda juga sudah ada yang terkena stroke, diabetes atau penyakit jantung," ujarnya pada temu media 'Yuk Main di Luar' yang dihelat Nuvo, Selasa (23/8/2016).
Risiko penyakit yang mengintai anak-anak obesitas, bahkan menurutnya, lebih besar dibandingkan risiko yang dialami mereka yang memiliki masalah obesitas pada usia dewasa.
"Kalau pada anak penumpukan sel lemaknya yang banyak sehingga menyebabkan obesitas. Kalo dewasa, volume selnya yang besar sehingga lebih mudah untuk diturunkan," imbuh Indrarti.
Sebelum risiko tersebut mengintai, ia menyarankan orangtua agar secara rutin menimbang berat badan dan mengukur tinggi buah hatinya. Dan yang terpenting, biarkan anak bergerak secara aktif di luar rumah agar penumpukan lemak bisa dicegah.
"Anak secara alami sukanya bergerak. Tapi orangtua kadang melarang anaknya bermain di luar ruangan karena takut kotor, jatuh dan lainnya. Sehingga anak jadi enggan bermain dan lebih banyak diam yang memicu penumpukan lemak," tambah Indrarti.
Pada anak-anak, ia menganjurkan agar mereka bergerak setidaknya 60 menit dalam sehari. Bentuk aktivitas fisiknya pun tak perlu terlalu berat, seperti berjalan santai, bersepeda, berkebun, main lompat tali, basket, atau sepak bola.
"Perlu dukungan orangtua untuk memberikannya kesempatan bergerak aktif sehingga menghindarkan dirinya dari risiko obesitas," pungkas Indrarti.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- Lipstik Merek Apa yang Mengandung SPF? Ini 5 Produk untuk Atasi Bibir Hitam dan Kering
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?
-
Waspada! 7 Jenis Tikus di Sekitar Rumah Ini Bisa Jadi Penyebab Hantavirus di Indonesia
-
4 Penyebab Hantavirus dan Gejala Awalnya, Ramai Dibahas usai Kasus MV Hondius
-
Hantavirus Apakah Sudah Ada di Indonesia? Ini Fakta dan Risiko Penularannya
-
Hantavirus Mirip Flu? Ketahui Gejala, Penularan, dan Cara Mencegahnya