Suara.com - Penyakit kaki gajah atau filariasis masih merupakan masalah dunia terutama bagi negara berkembang termasuk Indonesia. Jika dikategorikan ke dalam penyakit, filariasis tergolong penyakit menular tropis yang diabaikan, sehingga banyak penanganannya yang tidak tuntas.
Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dr. M. Subuh menjelaskan, penyakit kaki gajah disebabkan cacing filaria yang ditularkan oleh nyamuk.
"Dampaknya jika tidak diobati akan menimbulkan kecacatan tetap yang menjadi beban ekonomi," ujar dr Subuh pada temu media 'Kenali dan Cegah Filariasis Sejak Dini' di Jakarta, Jumat (30/9/2016).
Cacing yang menyebabkan filariasis, tambah dia antara lain jenis Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. Jika cacing tiga spesies ini mengendap dalam tubuh dalam jumlah banyak dan menutup kelenjar getah bening, maka seseorang akan mengalami pembengkakan di beberapa bagian tubuh.
"Bengkaknya bisa di tangan, kaki, payudara bahkan skrotum. Ini sifatnya menetap kalau bengkaknya sudah besar. Nggak bisa dioperasi dan harus dipotong kaki," imbuhnya.
Tantangan dari pengendalian filariasis sendiri, kata dia, disebabkan karena semua nyamuk bisa menjadi vektor penular filariasis. Oleh karena itu memberantas tempat perindukan nyamuk harus dilakukan untuk menekan angka kasus gajah.
"Jadi setiap gigitan nyamuk yang membawa cacing filariasis akan ditabung di tubuh manusia. Kalau gigitan nyamuk yang membawa cacing ini semakin sering maka jumlah filariasis dalam tubuh semakin besar hingga menutup kelenjar limfa yang memicu pembengkakan," tambahnya.
Subuh menjelaskan ada 239 kota di Indonesia yang menjadi endemis kasus kaki gajah, terutama di kawasan timur Indonesia. Sejak tahun lalu, Kementerian Kesehatan menyelenggarakan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (BELKAGA) setiap bulan Oktober hingga 2020 untuk mewujudkan Indonesia Bebas Penyakit Kaki Gajah.
"Jadi setiap bulan Oktober kami menyelenggarakan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis setahun sekali selama 5 tahun berturut-turut untuk memutus mata rantai penularan filariasis. Tahun ini dilakukan di Kalimantan Tengah yang menjadi endemis," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026
-
Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS
-
Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat
-
Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem
-
Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil
-
Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya
-
2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik