Suara.com - Memutuskan untuk menyusui merupakan keputusan terbaik bagi setiap ibu dan anak. Pasalnya, pemberian ASI eksklusif merupakan salah satu hal yang sebaiknya dilakukan seorang ibu untuk menjaga dan menunjang tumbuh kembang bayi.
Banyak otoritas medis, termasuk American Academy of Pediatrics (AAP) dan American College of Obstetricians and Gynecologists, sangat menganjurkan bagi seorang ibu menyusui bayinya.
Namun, tahukah gambaran tentang menyusui dapat membantu Anda memutuskan untuk memberi ASI eksklusif bagi si buah hati.
Apa Manfaat Menyusui untuk Bayi Anda?
Dalam rangka Pekan ASI Sedunia yang bertepatan dengan tanggal 1 sampai 7 Agustus, ada beragam manfaat ASI Eksklusif yang diberikan ibu pada bayi.
ASI merupakan makanan yang paling sempurna untuk bayi yang baru lahir, karena sangat mudah dicerna bayi yang sistem pencernaannya masih sensitif serta memiliki kandungan zat gizi yang sangat kaya dan tepat untuk kebutuhan bayi. ASI juga dianggap sebagai pelindung bagi bayi agar tidak terkena berbagai penyakit infeksi yang rentan dialami oleh bayi.
Beberapa studi mengungkapkan, ASI menurunkan risiko bayi terkena penyakit infeksi akibat bakteri, parasit, jamur, dan virus. ASI yang pertama kali keluar, disebut kolostrum, memiliki kandungan IgA yaitu zat kekebalan yang tidak ada di dalam susu formula.
Kandungan ASI yang sangat tepat untuk kebutuhan bayi membuat ASI mudah diserap dan dicerna tubuh. ASI mengandung enzim pencernaan yang memudahkan penyerapan zat gizi di dalam tubuh bayi. Pemberian ASI juga menghindarkan bayi terkena penyakit kronis dan akut pada masa mendatang.
Karena itu, ASI merupakan cara terbaik untuk menjaga status kesehatan dan gizi anak. Jika setiap anak diberikan ASI eksklusif, setidaknya terdapat 800 juta jiwa anak selamat dari berbagai penyakit infeksi, malnutrisi, bahkan kematian dini.
Di dalam ASI, terkandung berbagai vitamin serta mineral yang dibutuhkan bayi untuk menunjang pertumbuhan perkembangannya. Bahkan, pemberian ASI juga berpengaruh pada kemampuan kognitif serta belajar anak hingga dewasa nanti, bagaimana bisa?
ASI berpengaruh pada kemampuan kognitif anak. Berbagai penelitian telah membuktikan manfaat pemberian ASI eksklusif pada bayi. ASI eksklusif merupakan pemberian ASI selama 6 bulan penuh tanpa memberikan makanan atau minuman apapun pada bayi selain ASI dan kemudian dilanjutkan hingga anak berusia 2 tahun namun diiringi dengan pemberian makanan pendamping ASI.
Penelitian lain juga menyatakan, bahwa anak yang diberikan ASI ekslusif selama 6 bulan tanpa ada pemberian makanan atau minuman apapun dan kemudian dilanjutkan hingga anak berusia 2 tahun diiringi dengan pemberian MP-ASI, memiliki IQ 4 hingga 5 poin lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang tidak diberikan ASI eksklusif. Bahkan penelitian tersebut melakukan perbandingan terhadap durasi pemberian ASI.
Anak yang hanya diberikan ASI 3 bulan pertama kehidupan memiliki IQ 2 poin lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang tidak diberikan ASI sama sekali. Sedangkan
pemberian ASI yang dilakukan selama 4-6 bulan diketahui mempunyai nilai IQ 3,8 lebih tinggi daripada anak yang hanya diberi ASI selama 3 bulan. Tetapi angka tersebut masih lebih rendah jika dibandingkan dengan anak yang mengonsumsi ASI ekslusif selama 6 bulan penuh dan melanjutkannya hingga umur 2 tahun.
ASI mengandung DHA yang penting untuk perkembangan otak anak. Berbagai studi telah menyatakan bahwa ASI memiliki dampak yang sangat baik dalam kelangsungan
hidup anak, terkait dengan status gizi, status kesehatan, serta perkembangan dan pertumbuhan anak.
ASI juga dapat menunjang perkembangan otak dan pertumbuhan bayi. Hasil analisis yang melibatkan berbagai penelitian, membuktikan bahwa ASI dapat meningkatkan fungsi kognitif anak. Hal ini salah satunya disebabkan karena ASI mengandung docosahexaenoic acid (DHA) dan arachidonic acid yaitu jenis asam lemak tidak jenuh ganda yang sangat baik untuk perkembangan otak anak.
Setiap ibu yang menghasilkan ASI memiliki kandungan DHA dan AA di dalam ASI-nya, tetapi setiap ibu memiliki kadar DHA dan AA yang berbeda-beda, tergantung dengan diet serta makanan yang dikonsumsi oleh ibu. Beberapa penelitian menyatakan bahwa ibu yang sering mengonsumsi makanan laut yang tinggi akan DHA, seperti ikan salmon dan ikan tuna, memiliki kandungan DHA yang lebih banyak dalam ASI-nya.
ASI juga mengandung berbagai komponen bioaktif esensial yang berguna untuk pertumbuhan serta perkembangan sistem saraf pusat. Komponen bioaktif yang berpengaruh
terhadap perkembangan otak yaitu, brain-derived neurotrophic factor (BDNF) dan glial cell-line derived neurotrophic factor (GDNF). Kedua komponen ini ditemukan pada ASI setidaknya setelah 90 hari setelah kelahiran.
Dalam sel tubuh bayi, GDNF dan BDNF meningkatkan perkembangan serta sistem pertahanan sel saraf pusat yang kemudian berpengaruh pada kerja otak bayi. (WebMD)
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh