Suara.com - Jika Anda mencoba mencari jawaban tentang kapan dan seberapa sering perempuan harus di-skrining untuk masalah kanker payudara dengan mamogram, Anda tidak akan menemukan kesepakatan universal.
Satu kelompok setuju bahwa seorang perempuan harus menjalani skrining pertama mereka antara usia 45 hingga 50. Selain itu, perempuan dengan riwayat keluarga terkena kanker payudara harus memulai skrining lebih awal.
Ketika metode mamogram muncul pada tahun 1970-an sebagai alat untuk mendeteksi kanker payudara, saat itu juga era Perang Melawan Kanker dimulai. Pemahaman awal tentang kanker kemudian mengarah bahwa menemukan kanker lebih awal, ketika tumor masih kecil, maka itu merupakan kesempatan terbaik untuk melawannya dan membantu seorang perempuan hidup lebih lama.
Kanker saat ini sangat distigmatisasi dan sering kali tabu untuk dibicarakan, sehingga para dokter berjuang agar masyarakat menerima penyakit tersebut dan mengenalkan gagasan untuk diuji sedini mungkin untuk mengendalikannya. Saran umumnya adalah menyaring sedini dan sesering mungkin.
Namun, asumsi bahwa skrining akan menyebabkan kehidupan lebih lama dan lebih banyak nyawa yang akan diselamatkan dari kanker, ada data yang bertentangan mengenai apakah itu benar-benar terjadi.
Penelitian menunjukkan, perempuan yang di-skrining secara teratur tidak selalu dapat menghindari kematian akibat kanker payudara, dibandingkan dengan perempuan yang tidak pernah di-skrining.
Bahkan, usia di mana dokter menyarankan agar perempuan mulai mendapatkan mamogram yaitu 40 tahun dinilai peneliti 'agak sewenang-wenang', berdasarkan fakta bahwa kanker, seperti kanker payudara pada khususnya adalah penyakit yang terjadi pada orangtua.
Studi tersebut juga menunjukkan, tingginya jumlah lesi yang ditemukan oleh mamografi, beberapa di antaranya positif tetapi palsu, menyebabkan lonjakan pada pengujian tambahan, biopsi dan perawatan radikal, termasuk mastektomi dan bahkan mastektomi profilaksis, di mana perempuan memutuskan untuk mengangkat kedua payudaranya bahkan jika hanya memiliki satu tumor saja.
Studi telah menemukan bahwa mammogram di AS dapat menyebabkan hasil positif palsu hingga 30 persen lebih tinggi di mana lesi yang mencurigakan ternyata tidak menyebabkan kanker.
Baca Juga: Rekomendasi Ahli Agar Pengobatan Kanker Payudara Berjalan Efektif
Dalam beberapa dekade terakhir, bukti ilmiah baru mulai masuk karena cukup banyak perempuan yang diskrining dan bertahun-tahun mendokumentasikan tingkat kanker payudara dan penyebab kematiannya.
Namun, pesan intuitif di balik skrining yaitu mencari kanker, membantu menemukannya dan mengobatinya, sangat kuat sehingga sulit bagi dokter dan masyarakat untuk 'mempertanyakan' metode mammogram.
Kemudian lagi, Satuan Tugas Pelayanan Pencegahan AS atau USPSTF, yaitu sekelompok pakar independen yang diminta pemerintah AS membahas topik tersebut.
Ketika USPSTF meninjau literatur tentang mammogram, mereka sampai pada kesimpulan yang mengejutkan. Ada sedikit bukti untuk mendukung manfaat mammogram pada perempuan muda, kata mereka. Bagi mereka, risiko biopsi lesi pada hal yang mencurigakan, atau prosedur tambahan, sebanding manfaatnya untuk melindungi mereka dari kanker payudara tahap lanjut.
Setelah menganalisis data, mereka merekomendasikan agar kebanyakan perempuan memulai skrining mammogram pada usia 50, bukan 40, dan diminta diulang setiap dua tahun sekali daripada setiap tahun.
Rekomendasi tersebut mendatangkan malapetaka pada komunitas penggiat kanker dan menyebabkan kebingungan di kalangan perempuan.
Berita Terkait
-
Rekomendasi Ahli Agar Pengobatan Kanker Payudara Berjalan Efektif
-
Ini Mengapa Terjadi Perubahan pada Payudara saat Hamil
-
Perempuan, Waspadalah Bila Payudara Alami Perubahan Ini
-
Paparan Cahaya di Malam Hari Tingkatkan Risiko Kanker Payudara
-
Mamografi Usia 40 Kurangi Risiko Kematian karena Kanker Payudara
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien