Suara.com - Kejadian traumatis dalam hidup memang cenderung memberi dampak mendalam pada seseorang. Butuh waktu yang cukup lama agar seseorang bisa sembuh dari pengalaman tak menyenangkan tersebut.
Bahkan dari hasil studi yang dilakukan oleh University of California mengungkapkan bahwa peristiwa penuh tekanan juga dapat menyebabkan obesitas pada perempuan.
Studi juga menyebutkan bahwa perempuan yang baru saja mengalami satu atau lebih peristiwa traumatis atau mereka yang telah mengalami beberapa kejadian negatif di tahun-tahun sebelumnya, memiliki risiko pengembangan obesitas yang lebih tinggi.
Peristiwa semacam itu juga dapat meningkatkan penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung, stroke, diabetes dan kanker serta berkontribusi pada biaya kesehatan spiral.
Penelitian yang dipresentasikan dalam American Scientific Sessions 2017 di California tersebut mengatakan perempuan wanita yang telah mengalami empat atau lebih kejadian hidup negatif memiliki risiko obesitas 36 persen lebih tinggi, dibandingkan dengan perempuan yang tidak mengalami kejadian semacam itu.
"Sedikit yang diketahui tentang bagaimana kejadian kehidupan negatif dan traumatis mempengaruhi obesitas pada perempuan. Kita tahu bahwa stres mempengaruhi perilaku, termasuk apakah orang yang makan berlebihan atau terlalu banyak makan, serta aktivitas neuro-hormonal pada bagian produksi kortisol yang meningkat, yang berkaitan dengan berat badan," kata Michelle A. Albert, seorang Profesor di University of California di San Francisco dilansir Zeenews.
Para peneliti mempelajari hubungan antara kejadian hidup dan obesitas pada sekitar 21.904 perempuan. Mereka mengukur dampak dua jenis stres yaitu kejadian traumatis, yang dapat terjadi kapan saja dalam kehidupan seorang perempuan mencakup hal-hal seperti kematian anak atau menjadi korban serangan fisik yang serius.
Jenis stres selanjutnya adalah peristiwa kehidupan negatif yang terjadi di lima tahun sebelumnya seperti menganggur selama lebih dari tiga bulan atau kehilangan benda.
Hasilnya menemukan bahwa semakin tinggi jumlah kejadian hidup negatif pada seorang perempuan, maka semakin tinggi kecenderungan meningkatnya Ia mengalami obesitas.
"Ini adalah pekerjaan penting karena perempuan hidup lebih lama dan lebih berisiko terkena penyakit kronis, seperti penyakit kardiovaskular," tutup Albert
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Harga Adidas Adizero Termurah Tipe Apa Saja? Ini 5 Varian Terbaiknya
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
Pilihan
-
Buntut Polemik Suket Pendidikan Gibran, Subhan Palal Juga Gugat Pimpinan DPR-MPR
-
Tok! Eks Sekretaris MA Nurhadi Divonis 5 Tahun Penjara dan Wajib Bayar Uang Pengganti Rp137 Miliar
-
Aksi Tenang Nenek Beruban Curi TV 30 Inci di Jatinegara Viral, Korban Tak Tega Lapor Polisi
-
Panglima TNI: Tiga Prajurit yang Gugur di Lebanon Terima Santunan Miliaran dan Pangkat Anumerta
-
Swasta Diimbau Ikut WFH, Tak Ada Sanksi Menanti
Terkini
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026
-
Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS
-
Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat
-
Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem