Suara.com - Salah satu kebiasaan yang diyakini dapat memicu kanker adalah mengonsumsi junk food alias makanan cepat saji. Benarkan anggapan ini?
Ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia, Prof. DR. Dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD, KHOM, FACP, mengatakan bahwa ada tiga komponen yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker, antara lain pola makan, berat badan dan aktivitas fisik.
Makanan cepat saji yang merupakan budaya barat, mulai disukai anak-anak yang jika menjadi kebiasaan dapat memicu penimbunan lemak yang mengarah pada risiko obesitas. Kondisi inilah, kata dia, yang memicu peningkatan risiko kanker, bukan kandungan MSG pada makanan cepat saji.
"Jadi bukan MSG-nya, tapi kalori yang terkandung pada makanan cepat saji sehingga orang menjadi obesitas. Ketika obesitas, jika ada sel kanker mau tumbuh dan harusnya ditumpas sel kekebalan tubuh, justru didorong pertumbuhannya oleh lemak," ujar Prof Aru pada temu media Sosialisasi Kanker di Kementerian Kesehatan belum lama ini.
Faktor makanan dalam memicu kanker, bahkan menurut Prof Aru sama besarnya dengan rokok. Sayangnya berhenti merokok lebih mudah dilakukan dibandingkan mengubah pola makan sehari-hari.
"Kegemukan bukan hanya penambahan lemak. Sistem hormon berubah. Ada hormon leptin dan lainnya yang memicu kanker," tambah dia.
Dalam kesempatan yang sama Dirjen P2P, Kementerian Kesehatan dr. Mohamad Subuh, MPPM, mengatakan pada laki-laki kasus kanker terbanyak adalah kanker paru, sementara pada perempuan adalah kanker payudara dan kanker mulut rahim.
"Prevalensi kanker di Indonesia mencapai 14 per 1000 penduduk sehingga kalau jumlah penduduk kita 265 juta bebannya sangat tinggi," tambah dia.
Baca Juga: Sandiaga Akan Umumkan Solusi Naikkan Pendapatan Sopir Angkot
Subuh merinci kerugian ekonomi yang harus ditanggung untuk membiayai kasus kanker melalui BPJS mencapai Rp 2 Triliun per tahun. Hal ini membuat kanker merupakan penyakit kedua yang paling banyak menyedot anggaran kesehatan setelah penyakit jantung.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat
-
Perawatan Gigi Anak yang Nyaman, Bantu Si Kecil Tumbuh dengan Senyum Sehat dan Percaya Diri
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance