Suara.com - Anak berkebutuhan khusus atau ABK kerap menjadi korban dalam penyelenggaraan pendidikan formal, di mana masih ada sekolah kerap menolak keberadaan ABK karena dianggap memiliki hambatan secara fisik, psikologis, kognitif, dan sosial dalam proses belajar mengajar.
Hal itu pula yang sempat dirasakan Lucia Maria, perempuan dari Bintaro sekaligus ibu dari Gregorius Andhika Meidianto.
Grogorius atau yang akrab disapa Taha, terlahir dengan kondisi sindrom asperger. Sindrom asperger merupakan salah satu gejala autisme di mana penderitanya memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dengan lingkungannya, sehingga kerap kali mengalami penolakan.
"Dokter awalnya anggap ini hanya masalah lambat bicara. Ternyata autisme ringan dan hiperaktif," kata Lucia saat bercerita kepada Suara.com beberapa waktu lalu.
Pada awalnya, Lucia merasa cukup sedih dan cemas atas kondisi buah hatinya. Apalagi ketika Taha memasuki usia sekolah, ia nampak kesulitan mengenal konsep baca-tulis-hitung seperti anak kebanyakan.
Lucia lalu mendaftarkan Taha ke salah satu sekolah inklusi di Bintaro. Sayangnya, pihak sekolah menutup kelas inklusi saat Taha duduk di bangku kelas lima. "Pihak sekolah tidak mengadakan kelas 5 karena hanya ada dua ABK dari sebelumnya 8 anak. Mereka keluar satu persatu."
Padahal sesuai Pasal 1 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 70 tahun 2009, pendidikan inklusi dibuat untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan dalam satu lingkung pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.
Dengan peristiwa itu, praktis Lucia harus kembali mencari sekolah untuk anaknya yang berkebutuhan khusus. Ia mengaku harus merasakan belasan kali penolakan dari sekolah dasar yang ia coba 'dekati'.
Baca Juga: Atasi Banjir Rancaekek, Kementerian PUPR Normalisasi Sungai
Ketika ada yang satu sekolah yang bersedia, Lucia malah memilih mundur. "Hanya satu sekolah yang menerima. SD di daerah Karang Tengah, Ciledug. Tapi karena saya takut dan khawatir banyak kasus anak ABK di-bully, saya berpikir mungkin Taha percuma di sekolah umum," kata Lucia.
Menurut seorang psikolog klinis, sekaligus pendiri Sekolah Khusus Spectrum, Dra. Psi. Tisna Chandra, apa yang dialami oleh keluarga Lucia sudah sangat sering terjadi.
"Beberapa sekolah inklusi memutuskan diri untuk menghentikan dan menolak (ABK) karena dianggap tak memiliki guru yang memiliki kapabilitas untuk mendidik (ABK). Materi di kelas jadi terhambat dan anak-anak merasa terganggu dan yang terjadi adalah anak-anak ini tersisihkan," kata Tisna.
Ia mengatakan, sekolah umum harusnya tak merasa takut untuk menerima siswa ABK. Sebaliknya, mereka harusnya membangun departemen khusus yang dapat membantu anak-anak ABK di sekolah. "Tarik para psikolog, para terapis, mudah-mudahan anak-anak ABK ini bisa mengejar ketertinggalan," kata Tisna.
Dengan begitu, tambah Tisna, pihak sekolah terutama para guru tidak akan kewalahan mendidik siswa-siswi ABK karena dibantu oleh profesional yang memiliki kapabilitas mendidik anak-anak dengan kebutuhan khusus.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
Misi Juara Piala AFF: Boyongan Pemain Keturunan di Super League Kunci Kekuatan Timnas Indonesia?
-
Bukan Ragnar Oratmangoen! Persib Rekrut Striker Asal Spanyol, Siapa Dia?
-
Obsesi Epstein Bangun 'Pabrik Bayi' dengan Menghamili Banyak Perempuan
-
5 HP Baterai Jumbo untuk Driver Ojol agar Narik Seharian, Harga mulai dari Rp2 Jutaan
-
Bom Molotov Meledak di SMPN 3 Sungai Raya, Polisi Ungkap Terduga Pelaku Siswa Kelas IX
Terkini
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini
-
Solusi Bijak Agar Ibu Bekerja Bisa Tenang, Tanpa Harus Mengorbankan Kualitas Pengasuhan Anak
-
Dokter Saraf Ungkap Bahaya Penyalahgunaan Gas Tawa N2O pada Whip Pink: Ganggu Fungsi Otak!
-
Tidak Semua Orang Cocok di Gym Umum, Ini Tips untuk Olahraga Bagi 'Introvert'
-
Dehidrasi Ringan Bisa Berakibat Serius, Kenali Tanda dan Solusinya