Suara.com - Kanker tiroid masih menjadi salah satu jenis penyakit kanker yang bisa menyebabkan kematian pada manusia. Sayangnya, informasi soal kanker tiroid belum banyak diketahui kalangan awam.
Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP mengatakan kanker tiroid bisa menyerang siapa saja. Untuk itu penting mengenali gejala, penyebab, dan penanggulangan kanker tiroid bagi pasien.
“Gaya hidup sehat merupakan kunci terhadap pencegahan terkena kanker tiroid yang lebih banyak menyerang gender wanita, mereka yang terkena pajanan terhadap radiasi berkekuatan tinggi, dan sindrom genetika yang diturunkan. Jika kanker tiroid ditemukan, pengobatan yang tersedia meliputi pembedahan, yodium radioaktif, hormon tiroid, radioterapi luar, kemoterapi atau dengan terapi target atau sasaran khusus,” ujar Prof. Aru.
Dr. Hapsari Indrawati, SpKN, dalam diskusi ilmiah soal kanker tiroid belum lama ini, menyebutkan bahwa menurut data American Cancer Society 2007, terdapat 33.550 kasus baru kanker tiroid dalam setahun, dengan 1.530 menyebabkan kematian. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah penderita kanker tiroid terus meningkat, meski jumlah kematian akibat kanker tiroid relatif stabil.
Saat seseorang terkena kanker tiroid, maka akan mengganggu hormon tiroid dan menyebabkan gangguan metabolisme tubuh. Hipertiroidisme adalah kondisi ketika kadar hormon tiroksin di dalam tubuh sangat tinggi. Hal ini menyebabkan hiperaktivitas atau hiperiritasi, penderita menjadi tidak tahan udara panas, jantung berdetak cepat, lekas lelah dan lemah, turunnya berat badan meski nafsu makan naik, diare, poliuria atau meningkatnya buang air kecil secara berlebih, menstruasi tidak teratur, dan hilangnya libido.
Sementara itu, hipotiroidisme adalah kondisi di mana kelenjar tiroid tidak membuat hormon tiroid dengan cukup. Tanda-tandanya tubuh lekas lelah dan lemah, kulit kering, merasa kedinginan terus, rambut rontok, sulit konsentrasi dan daya ingat berkurang, konstipasi, berat badan bertambah meski nafsu makan berkurang, suara serak, menstruasi tidak teratur, sensasi abnormal berupa kesemutan, tertusuk, atau terbakar pada kulit, gangguan pendengaran, muka sembab, turunnya refleks urat, jari tangan mengalami sensasi kesemutan, mati rasa, atau nyeri, denyut jantung dibawah 60 per menit, dan adanya penumpukan cairan diantara dua lapisan pleura yang membungkus paru-paru.
Lebih lanjut Prof. Aru menerangkan tentang sejumlah faktor makanan yang memicu dan dapat meningkatkan risiko kanker. Alkohol misalnya, dapat mempengaruhi kesehatan mulut, tekak, pangkal tenggorokan saluran kerongkongan, hati, payudara, usus besar dan dubur; sementara garam yang berlebih berpengaruh terhadap kesehatan lambung; gula yang berlebih terhadap usus besar dan dubur; daging yang dipanggang dengan arang berkemungkinan berpengaruh terhadap usus besar dan dubur; lemak total dan lemak jenuh berpengaruh terhadap kesehatan paru-paru, usus besar, dubur, payudara dan prostat.
Adapun faktor makanan yang berhubungan dengan pengurangan risiko kanker meliputi makanan berserat yang bermanfaat bagi kesehatan kolorektal, pankreas dan payudara; asam folik untuk kesehatan serviks dan kolorektal; Vitamin D dan kalsium untuk kolorektal dan payudara; antioksidan baik yang bersifat nutrisi dan non-nutrisi dari makanan baik untuk kesehatan kolorektal, paru-paru, payudara, serviks, prostat, kerongkongan dan lambung; vitamin C yang bersumber dari makanan untuk kesehatan mulut, kerongkongan, paru-paru, lambung, pankreas dan serviks; the (flavonoids) baik untuk kesehatan paru-paru dan kolorektal; dan zat Alpha-tocopherol baik untuk paru-paru; serta isoflavon kedelai untuk kesehatan payudara. Sedangkan penyebab kanker lainnya termasuk rokok (160.000 dari 514.000 kematian karena kanker disebabkan oleh rokok); kurang berolah raga; dan obesitas.
Sementara itu DR. dr. Sonar S. Panigoro yang membawakan topik mengatakan, penanganan tumor padat diawali dari penemuan klinis, biopsi dan imajing untuk diagnosis kanker, dilanjutkan dengan penentuan stadium, penentuan jenis pengobatan apakah dilanjutkan dengan bedah, radiasi, atau hormonal kemoterapi.
Baca Juga: Komunitas Pita Tosca, Wadah Edukasi Kesehatan Tiroid di Indonesia
"Namun berdasarkan pengalaman, sebagian besar benjolan tiroid bersifat jinak, dan hanya 10% - 15% yang ganas sehingga perlu tindakan pembedahan," ujarnya.
DR. Sonar menjelaskan bahwa benjolan tiroid yang tidak ditangani pada pasien dengan riwayat radiasi leher dengan usia muda atau lanjut, benjolan dapat bertambah besar, terjadi pembesaran kelenjar getah bening leher, suara serak, dan mengalami kesulitan makan dan minum.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
Terkini
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes
-
Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol
-
Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu
-
Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat
-
Jangan Anggap Sepele Gigi Berlubang, Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak
-
Hidrasi Bukan Sekadar Hilangkan Haus, Ini Manfaatnya bagi Kesehatan Tubuh
-
Hanya 4,9 Persen Pasien Berisiko Kardiovaskular Tinggi di Indonesia Capai Target LDL-C
-
Dari Kecelakaan Kerja hingga Cedera Kepala, MRI 1.5 Tesla Jadi Senjata Baru Penanganan Trauma