Suara.com - Ragam kotak tidur bayi bergaya Finlandia kini sedang ngetren digunakan oleh para orang tua, atau diberikan sebagai hadiah bayi yang baru lahir. Dilengkapi dengan selimut, kotak tidur dianggap dapat membuat tidur bayi lebih aman dan praktis daripada keranjang bayi.
Tapi kini para ahli memperingatkan bahwa kotak tidur dapat meningkatkan risiko sindrom kematian bayi mendadak (sudden infant death syndrome/SIDS). Kok bisa?
Kotak tidur biasanya memiliki bentuk lebih sederhana dari keranjang bayi, dan diperkenalkan sebagai cara untuk meminimalkan risiko kematian bayi secara mendadak. Hal tersebut bahkan telah disetujui oleh Royal College of Midwives, organisasi kebidanan di Inggris.
Dilansir The Sun, Profesor Peter Blair, dari University of Bristol, menyebut tidak ada bukti yang menunjukkan kotak tidur lebih aman atau bahkan dapat mengurangi risiko sindrom kematian bayi mendadak.
Dalam publikasinya di British Medical Journal, Blair mengatakan kotak tidur bayi tidak bisa dipromosikan sebagai ruang tidur yang aman, melainkan hanya sebagai pengganti sementara.
Contohnya, untuk orang tua yang tidak memiliki tempat aman untuk bayi mereka, kotak tidur dapat menjadi alternatif yang lebih baik daripada ruang berbahaya seperti sofa.
Blair dan rekan-rekannya juga mengatakan bahwa perlu banyak penelitian lebih lanjut sebelum kotak tidur direkomendasikan sebagai tempat tidur aman bagi bayi.
Berbeda dengan dipan, bassinets atau keranjang tidur yang memungkinkan bayi terlihat dan mendapat aliran udara, kotak tidur biasanya terbuat dari kardus biasa dan memiliki sisi penutup yang tinggi.
Hal tersebut membuat orang tua dan pengasuh hanya dapat melihat bayi jika berdiri dan melihat langsung ke arah kotak tidur. Kotak tidur juga dianggap mudah terbakar seperti kardus, dan mungkin tidak memberikan perlindungan yang cukup jika jatuh dari ketinggian.
Baca Juga: Ternyata Bayi Baru Lahir Pun Bisa Kena Kanker
"Kami mendukung setiap inisiatif yang meningkatkan kesadaran sindrom kematian bayi mendadak, termasuk saran pengurangan risiko sindrom kematian bayi mendadak dengan menggunakan kotak tidur bayi," tulis Prof Blair dan rekan-rekannya.
"Namun saran ini bisa jadi berbahaya jika tidak ditunjang dengan bukti-bukti ilmiah yang kuat," tutupnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
Bukan Sekadar Kenyang, Ahli Gizi Ingatkan Pentingnya Nutrisi Seimbang untuk Menjaga Kualitas Hidup
-
Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian