Suara.com - Salah satu jenis degenerasi tulang belakang yang banyak dialami masyarakat Indonesia adalah osteoporosis.
lni merupakan kondisi dimana kepadatan tulang berkurang karena rendahnya kalsium pada tulang belakang. Kondisi ini bisa berbahaya karena menyebabkan melemahnya struktur atau kepadatan tulang sehingga meningkatkan risiko patah tulang.
Disampaikan dr Ibnu Benhadi SpBS(K), Spesialis Bedah Saraf Brain Spine Bunda Neuro Center, Jakarta, perempuan berusia 40 tahun keatas cenderung rentan mengalami osteoporosis. Data lain bahkan menunjukan sebanyak 40 persen perempuan di atas usia 80 tahun dipastikan memiliki osteoporosis tulang belakang.
"Patah tulang belakang akibat osteoporosis dapat menyebabkan nyeri pinggang yang menjadikan penderitanya kesulitan berdiri, jalan, duduk atau mangangkat suatu benda. Gejala lain yang dapat ditimbulkan pada patah tulang belakang adalah berkurangnya berat badan penderita," ujar dr Ibnu dalam temu media di RSU Bunda Jakarta, Jumat (2/11/2018).
Untuk mendeteksi osteoporosis, dr Ibnu mengatakan bahwa beberapa pemeriksaan bisa dilakukan seperti Xray dan CT scan.
Tidak menutup kemungkinan, kata dia, dokter juga akan menganjurkan pemeriksaan kepadatan tulang menggunakan dual X-ray absorptiometry (DXA atau DEXA) scan.
"Ketika sudah didiagnosis osteoporosis, kita akan memberikan beberapa obat-obatan yang bertujuan mencegah terjadinya fraktur tulang belakang. Obat-obatan ini bekerja dengan cara memperkuat tulang dan mencegah pengeroposan agar tidak mengarah ke patah tulang," tambah dia.
Pada penderita osteoporosis yang sudah dengan mengalami patah tulang belakang, dr Ibnu merekomendasikan beberapa terapi termasuk memberikan obat penghilang rasa sakit, istirahat untuk beberapa saat, hingga penggunaan korset khusus dan pembedahan.
Kyphoplasty dan vertebroplasty merupakan teknologi bedah minimal invasive yang dapat digunakan untuk mengatasi fraktur tulang belakang. Dimana bahan khusus seperti semen yang disebut polymethylmethacrylate (PMMA) disuntikan secara langsung pada tulang belakang yang mengalami fraktur.
Baca Juga: Jual Kaos Kaki Bekas, Perempuan Ini Untung 2 Miliar
"Sebelum penyuntikan PMMA dilakukan, balon khusus dimasukan dan dikembangkan pada tulang yang mengalami fraktur atau retak dengan menggunakan bantuan X-ray fluoroscopy menuju lokasi yang ditargetkan. Tujuan tindakan ini untuk mengembalikan tinggi dan bentuk tulang belakang sehingga dapat meningkatkan stabilitas tulang belakang," tambah dia.
Tindakan kyphoplasty sendiri dilakukan menggunakan anastesi lokal atau umum. Tindakan bedah minimal invasif ini umumnya membutuhkan waktu sekitar 30-60 menit.
Sehingga masalah osteoporosis, degenerasi tulang belakang yang banyak dialami masyarakat Indonesia ini cukup direkomendasikan tindakan kyphoplasty dan vertebroplasty.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Bekas 50 Jutaan dari Suzuki, Ideal untuk Harian karena Fungsional
- Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
- Apakah Habis Pakai Cushion Perlu Pakai Bedak? Ini 5 Rekomendasi Cushion SPF 50
- 5 Rekomendasi HP RAM 8GB Rp1 Juta Terbaik yang Bisa Jadi Andalan di 2026
- 7 Sepatu Nike Tanpa Tali yang Praktis dan Super Nyaman untuk Lansia
Pilihan
-
Rupiah Loyo, Modal Asing Kabur Rp 27 Triliun Sejak Awal Tahun
-
Izin Tambang Emas Martabe Dicabut, Agincourt Resources Belum Terima Surat Resmi dari Pemerintah
-
Hashim dan Anak Aguan Mau Caplok Saham UDNG, Bosnya Bilang Begini
-
Harga Kripto Naik Turun, COIN Pilih Parkir Dana IPO Rp220 Miliar di Deposito dan Giro
-
Prabowo Cabut Izin Toba Pulp Lestari, INRU Pasrah dan di Ambang Ketidakpastian
Terkini
-
Rahasia Energi "Anti-Loyo" Anak Aktif: Lebih dari Sekadar Susu, Ini Soal Nutrisi yang Tepat!
-
Sinergi Medis Indonesia - India: Langkah Besar Kurangi Ketergantungan Berobat ke Luar Negeri
-
Maia Estianty Gaungkan Ageing Gracefully, Ajak Dewasa Aktif Waspada Bahaya Cacar Api
-
Kolesterol Tinggi, Risiko Diam-Diam yang Bisa Berujung Stroke dan Serangan Jantung
-
Telapak Kaki Datar pada Anak, Normal atau Perlu Diperiksa?
-
4 Rekomendasi Minuman Diabetes untuk Konsumsi Harian, Mana yang Lebih Aman?
-
Apa Itu Food Genomics, Diet Berbasis DNA yang Lagi Tren
-
Bosan Liburan Gitu-Gitu Aja? Yuk, Ajak Si Kecil Jadi Peracik Teh Cilik!
-
Menkes Tegaskan Kusta Bukan Kutukan: Sulit Menular, Bisa Sembuh, Fatalitas Hampir Nol
-
Kabar Gembira! Kusta Akan Diskrining Gratis Bareng Cek Kesehatan Nasional, Ini Rencananya