Suara.com - Susu selama ini dianggap sebagai sumber lemak. Bahkan banyak yang menganggap mengonsumsi susu dapat memicu obesitas. Dan belum lama ini pula susu kental manis memicu polemik karena diyakini lebih tinggi gula dibandingkan zat gizinya.
Menanggapi hal ini, Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Ir. Achmad Syafiq MSc. PhD, menegaskan bahwa belum ada bukti ilmiah susu kental manis menyebabkan gangguan penyakit. Menurut dia, anggapan sebagian pihak yang menyatakan susu kental manis menyebabkan berbagai penyakit seperti obesitas dan diabetes juga tidak berdasar.
"Berdasarkan kajian lembaga kesehatan dunia (WHO), kegemukan disebabkan banyak faktor di antaranya rendahnya aktivitas fisik, rendahnya asupan serat, dan tingginya asupan energi harian total, bukan dari satu jenis pangan," ujar Syafiq dalam Seminar ‘Kebaikan Susu sebagai Salah Satu Sumber Gizi Utama Masyarakat Indonesia’ di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Menurut dia, segala sesuatu yang berlebihan tentu saja tidak baik. Untuk itu, ia mengimbau agar masyarakat mengonsumsi susu secara proporsional dan tidak menjadikannya sebagai satu-satunya sumber gizi.
Dalam kesempatan yang sama, peneliti dari Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Dr. drg. Amaliya, mengatakan bahwa Indonesia masih harus menghadapi permasalahan gizi. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan proporsi status gizi sangat pendek dan pendek mencapai 30,8 persen. Demikian juga proporsi status gizi buruk dan gizi kurang turun mencapai 17,7 persen.
Menurut dia, salah satu solusinya bisa dengan meningkatkan konsumsi susu dalam kehidupan sehari-hari. Amaliya mengatakan, susu dan produk olahannya memiliki kandungan protein, lemak, dan vitamin yang sangat dibutuhkan guna mendukung perkembangan seseorang di setiap tahap kehidupan.
"Namun, konsumsi susu di Indonesia masih sangat rendah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi susu masyarakat Indonesia pada tahun 2017 hanya berkisar 16,5 liter/kapita/tahun, sangat rendah dibandingkan negara ASEAN lain seperti Malaysia (50,9 liter), Thailand (33,7 liter), dan Filipina (22,1 liter)," ujar Amaliya.
Menanggapi efek kental manis bagi kesehatan, peneliti Amaliya mengatakan bahwa sebenarnya Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menerbitkan Peraturan (Perka) Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan. Peraturan ini mewajibkan label produk susu kental manis mencantumkan keterangan “Perhatikan! Tidak untuk menggantikan Air Susu Ibu; Tidak Cocok untuk Bayi sampai usia 12 bulan; dan Tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya sumber gizi” demi meluruskan polemik yang berkembang di masyarakat.
Direktur Registrasi Pangan Olahan BPOM Anisyah pun mengimbau agar masyarakat tidak menjadikan susu kental manis sebagai satu-satunya sumber gizi. Menurut dia, setiap pangan olahan harus didampingi sumber nutrisi lain agar lebih seimbang.
Baca Juga: Kasus Meikarta, KPK Kembali Periksa Mantan Presdir Lippo Cikarang
Berita Terkait
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 4 Mobil Kecil Bekas 80 Jutaan yang Stylish dan Bandel untuk Mahasiswa
Pilihan
-
Bertemu Ulama, Prabowo Nyatakan Siap Keluar dari Board of Peace, Jika...
-
Bareskrim Tetapkan 5 Tersangka Dugaan Manipulasi Saham, Rp674 Miliar Aset Efek Diblokir
-
Siswa SD di NTT Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Mendikdasmen: Kita Selidiki
-
Kasus Saham Gorengan, Bareskrim Tetapkan 3 Tersangka Baru, Salah Satunya Eks Staf BEI!
-
Bareskrim Geledah Kantor Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Saham Gorengan
Terkini
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini
-
Solusi Bijak Agar Ibu Bekerja Bisa Tenang, Tanpa Harus Mengorbankan Kualitas Pengasuhan Anak
-
Dokter Saraf Ungkap Bahaya Penyalahgunaan Gas Tawa N2O pada Whip Pink: Ganggu Fungsi Otak!
-
Tidak Semua Orang Cocok di Gym Umum, Ini Tips untuk Olahraga Bagi 'Introvert'
-
Dehidrasi Ringan Bisa Berakibat Serius, Kenali Tanda dan Solusinya
-
Indonesia Masih Kekurangan Ahli Gizi, Anemia hingga Obesitas Masih Jadi PR Besar
-
Cedera Tendon Achilles: Jangan Abaikan Nyeri di Belakang Tumit