Suara.com - Rokok elektrik selama ini dianggap sebagai cara baru untuk berhenti merokok. Bahkan, penelitian terkini yang dilakukan oleh University College London, menemukan bahwa rokok elektrik tiga kali lebih efektif dalam membantu perokok berhenti, dibandingkan dengan nikotin tempel dan permen karet nikotin.
Namun di sisi lain, banyak pula yang menganggap bahwa rokok elektrik bukan solusi yang tepat untuk berhenti merokok. Apalagi peranti itu sendiri mengandung nikotin. Alasan-alasan tadi secara perlahan namun pasti menghalangi para perokok dewasa untuk memilih alternatif yang layak sebagai upaya mereka untuk berhenti merokok.
Well, seiring perkembangan teknologi dan berbagai penelitian yang dilakukan, berikut ini adalah lima mitos teratas terkait rokok elektrik yang harus diketahui, beserta alasannya.
Mitos #1 : Rokok elektrik menyebabkan penyakit serius
Salah satu kekhawatiran terbesar dari penggunaan rokok elektrik adalah karena rokok elektrik dapat menyebabkan "popcorn lung". Hal ini dipicu oleh rasa mentega yang mengandung bahan kimia, diacetyl yang terdapat pada liquid perasa rokok elektrik, di mana dalam jumlah yang sangat tinggi bisa menyebabkan penyakit paru-paru yang serius yaitu bronchiolitis obliterans.
Istilah "popcorn lung" ini menjadi populer dari sebuah penelitian yang pertama kali dilakukan di kalangan pekerja pabrik popcorn. Cancer Research UK mengkritik penelitian ini, dan menyatakan bahwa tidak ada bukti yang cukup untuk menunjukkan hubungan bahwa rokok elektrik bisa menyebabkan "popcorn lung". Kasus serupa juga tidak pernah dilaporkan sebelumnya sehingga anggapan ini hanyalah mitos.
Mitos #2: Rokok elektrik berbahaya karena mengandung nikotin
Salah satu anggapan dan banyak dipercaya orang mengenai nikotin adalah menganggap bahwa nikotin adalah penyebab utama kanker akibat merokok. Namun menurut keterangan resmi yang diterima Suara.com, menunjukkan bahwa nikotin membawa risiko terkecil yang membahayakan kesehatan, namun memang bisa menyebabkan adiksi.
Sementara itu, ribuan kandungan bahan kimia dan zat berbahaya lainnya dalam asap rokok yang diakibatkan oleh pembakaranlah justru sangat berbahaya dan bisa menyebabkan timbulnya penyakit kronik. Dua elemen yang paling berbahaya dalam asap tembakau adalah tar atau karbon monoksida, namun uap rokok elektrik tidak mengandung keduanya.
Baca Juga: Disayangkan, Tinjauan Ulang Penalti Lima Detik untuk Vettel Ditolak
Mitos #3: Rokok Elektrik membuat remaja ingin merokok
Tidak ada studi terbaru yang mampu mendukung mitos bahwa rokok elektrik adalah gerbang awal remaja untuk merokok. Penelitian terbaru justru datang dari Selandia Baru yang menunjukkan bahwa rokok elektrik mampu menekan jumlah perokok dewasa muda.
Sejak 2017, Selandia Baru telah melegalkan penjualan dan pasokan rokok elektrik sebagai produk konsumen setelah mengamati bahwa terjadi penurunan tingkat merokok, terutama di kalangan dewasa muda. Untuk itu, Kementerian Kesehatan Selandia Baru baru-baru ini menerbitkan hasil penelitian mereka yang menunjukkan bahwa angka merokok di Selandia Baru terus menurun, dengan sisa 16 persen orang dewasa muda merokok pada 2017 sampai 2018.
Mitos #4: Rokok elektrik tidak bisa membuat orang berhenti merokok
Sebuah studi baru-baru ini dari University College London pada Mei 2019 menemukan bahwa sebanyak 95 persen dari 20 ribu responden berhasil berhenti merokok dengan bantuan rokok elektrik.
Dibandingkan dengan NRT (Nicotine Replacement Therapy), banyaknya studi tentang efektivitas rokok elektrik kini mulai memicu banyak perdebatan ilmiah. Salah satu penelitian yang terbaru diterbitkan oleh
New England Journal of Medicine pada Januari 2019. Studi ini menyimpulkan bahwa rokok elektrik hampir dua kali lebih efektif daripada NRT.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif