Suara.com - KLB Hepatitis A di Pacitan, Kenali Faktor Penyebab dan Pengobatannya
Kabupaten Pacitan di Jawa Timur mengalami KLB Hepatitis A. Berdasarkan data terkini, ada 577 warga pacitan yang mengalami hepatitis A.
Diberitakan Jatimnet, jaringan Suara.com, KLB hepatitis A di Pacitan kemungkinan besar berasal dari sumber air yang tercermar. Meski begitu, Pemda Pacitan meminta masyarakat tak perlu gusar.
"Sebenarnya hepatitis ini penyakit yang bisa sembuh sendiri asalkan istirahat, Hepatitis A merupakan penyakit liver karena virus yang paling ringan," Kata Kadinkes Kabupaten Pacitan Eko Budiono.
Benarkah demikian? Laman Hello Sehat menyebut hepatitis A adalah infeksi peradangan hati yang disebabkan oleh virus. Meski mudah menular, penyakit ini memang bisa sembuh dalam waktu 2-6 bulan, tak menyebabkan masalah kesehatan serius.
Penyebab Hepatitis A
Hepatitis A ditularkan oleh virus. Biasanya, hepatitis A menyebar melalui makanan yang terkontaminasi, akibat tidak dicuci dengan baik, baik makanan maupun tangan yang menyuguhkan.
Hepatitis A juga menular melalui sumber air yang terkontaminasi, melakukan kontak, dan melakukan hubungan intim dengan orang yang terinfeksi.
Faktor Risiko Hepatitis A
Baca Juga: Vampire Facial Treatment Kabarnya Bisa Picu HIV dan Hepatitis
Faktor risiko penyakit hepatitis A cukup beragam. Yang utama adalah bepergian, bekerja, atau tinggal di wilayah yang terjangkit hepatitis A.
Pengidap HIV, terutama yang berasal dari kalangan LGBT, memiliki faktor risko yang lebih tinggi karena daya tahan tubuh yang lemah.
Pengidap kelainan darah hemofilia juga lebih rentan terjangkit penyakit ini.
Pengobatan Hepatitis A
Tidak ada pengobatan khusus untuk penderita hepatitis A. Tubuh penderita akan membersihkan virus hepatitis A dengan sendirinya. Pada sebagian besar kasus hepatitis A, organ hati penderita akan sembuh dalam jangka waktu 6 bulan tanpa kerusakan permanen.
Kebanyakan orang dapat dirawat di rumah. Selama masa perawatan, penderita harus menghindari hubungan intim dengan orang lain dan kunjungi dokter secara teratur untuk memeriksa kemajuan kondisi kesehatan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
Terkini
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh
-
Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya