Health / Konsultasi
Kamis, 10 Oktober 2019 | 19:30 WIB
Dr. Sonia Wibisono, Prof. Dr. dr. Idrus Alwi, Sp.PD, KKV, FACC, FESC., Esti Nurjadin (Ketua Yayasan Jantung Indonesia), dan Dr. Roswin R Djaafar, MARS. (Suara.com/Vessy Frizona)

Suara.com - Pusat Layanan Jantung Berbasis Teknologi Kini Hadir di MMC Jakarta

Merujuk pada data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), angka kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah semakin meningkat dari tahun ke tahun. Setidaknya, 15 dari 1000 orang atau sekitar 2,8 juta individu di Indonesia menderita penyakit jantung.

Untuk itu penderita membutuhkan cara pengobatan terbaru untuk mengobati penyakit jantung. Saat ini penderita penyakit jantung yang berasal dari berbagai kelas lapisan masyarakat ini mendapat perhatian dari RS Metropolitan Medical Centre (MMC) dengan terus meningkatkan fasilitas dan layanan bagi pasien penyakit jantung. Berbagai peralatan dengan teknologi terbaru untuk penanganan penyakit jantung sudah tersedia.

"Sejalan dengan Hari Jantung Dunia yang diperingati pada 29 September, tahun ini RS MMC mengangkat tema Save Our Heart. Dimana kami sebagai pelaku di dunia kesehatan mengajak masyarakat untuk peduli terhadap kesehatan jantung, baik itu pencegahan maupun perawatan apabila terjadi gangguan pada jantung ke depan kami akan secara konsisten memberikan edukasi kepada masyarakat tentang penyakit jantung koroner," ucap Dr. Roswin R Djaafar, MARS, Direktur Utama RS MMC saat ditemui Suara.com, Kamis (10/10/2019) di Jakarta Selatan.

Ia menambahkan, saat ini RS MMC memiliki Cardio Celebro Vascular Centre (CCVC) atau Pusat Pelayanan Jantung dan Pembuluh Darah. Di CCVC ini kami menyediakan layanan terpadu mulai dari Keteterisasi Jantung, Pemasangan Pacu Jantung, Tindakan Diagnostik, dan Terapi Vaskuler, Tindakan Radiologi Intervensi serta ruang Perawat ICCU.

Dikatakan pula oleh Prof. Dr. dr. Idrus Alwi, Sp.PD, KKV, FACC, FESC., dokter spesialis kardiovaskular dari RS MMC mengatakan, penderita penyakit jantung di Indonesia tidak lepas dari perubahan gaya hidup masyarakat.

"Kemajuan teknologi yang membuat semua serba mudah, membuat kita kurang bergerak, kurang olahraga, stress dan kebiasaan merokok dan minum alkohol. Gaya hidup sehat seperti ini yang pada akhirnya memunculkan degenarative, salah satunya penyakit jantung," ujar dokter Idrus.

Sejalan dengan upaya menekan jumlah penderita penyakit jantung, Yayasan Jantung Indonesia tidak pernah berhenti mengampanyekan gaya hidup sehat dan turut aktif dalam upaya penurunan kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah. Hal itu dilakukan lewat program kerja mencakup, kegiatan promotif seperti penyuluhan kepada masyarakat luas melalui media.

Kemudian kegiatan preventif yaitu olahraga jantung sehat melalui klub Jantung Sehat dan Jantung Remaja yang tersebar di seluruh Indonesia. Lalu ketiga, kegiatan kuratif atau rehabilitatif berupa biaya bedah dan non bedah penyakit bawaan, pengembangan penelitian penyakit jantung bawaan, pengembangan penelitian penyakit jantung dan pembuluh darah, kegiatan deteksi dini dan skrining untuk risiko penyakit kardiovaskular di masyarakat.

Baca Juga: Kematian Dendy Mikes Sangat Mendadak, Ketahui Gejala Serangan Jantung Diam

Load More