Suara.com - Ayah, Ibu, dan Bayi Berisiko Alami Shaming, Apa Dampaknya Bagi Mental?
Perilaku menyerang kesehatan mental kini semakin rentan bagi keluarga Indonesia. Ada banyak sekali bullying atau shaming dilemparkan kepada setiap anggota keluarga lewat berbagai media.
Psikolog klinis, Dessy Ilsanty M. PSi., mengatakan bentuk shaming atau tindakan mempermalukan seseorang kini dihadapi semua lapisan usia, mulai dari bayi hingga orang tua.
"Baby shaming, tindakan mengeluarkan kata-kata negatif yang dilakukan seseorang terhadap bayi. Anak kecil sudah dibully. Misalnya dengan mengatakan bayi itu botak, pesek, hitam, dan lain sebagainya. Selain fisik juga seringkali mengarah ke perilaku si bayi seperti mengatakan anak cengeng, jorok, berantakan mainnya, dan masih banyak lagi," ucap Dessy Ilsanty kepada Suara.com belum lama ini di Jakata, ditulis Selasa (22/10/2019).
Lebih lanjut ia menyampaikan, tindakan baby shaming tidak hanya berdampak kepada si bayi, tetapi juga ibu yang merasakan mom shaming. Perasaan seorang ibu bisa hancur ketika anaknya dihujani kata-kata negatif atau dicemooh karena perilaku dari si anak.
Mom shaming sering dilakukan dengan menyalahkan pola asuh ibu terhadap apa saja yang terjadi pada anak.
"Kalau anaknya dikatain negatif, fisiknya dibully, kan perasaan ibu yang hancur. Walau ketika di hadapan pelaku ibu ikut tertawa anaknya dikatain pesek, nanti kalau lagi sendiri di rumah kadang bergumam juga, 'iya ya anak gue kok pesek ya', nah efeknya itu yang merusak mental. Kemudian dibully juga soal pola asuh. 'Kok anaknya makannya instan, kok minum susu formula, kok cengeng anaknya'. Penyampaian-penyampaian seperti itu efeknya bisa merusak mental," lanjut Dessy lagi.
Dari dua bentuk shaming yang sudah disampaikan tadi, ada juga tindakan mempermalukan yang dilakukan tanpa sadar terhadap ayah, yang bernama dad shaming. Ya, ternyata bukan anak dan ibu saja yang mengalami.
Ayah bisa mengalami dad shaming, yang tentu saja juga akan berdampak pada kesehatan mentalnya.
Baca Juga: Merusak Mental Ibu, Psikolog Ungkap Cara Melawan Mom Shaming
"Hanya saja ayah, tipe yang lebih cuek dan santai, tak ambil pusing apa kata orang. Contohnya, anaknya yang dibully, tapi serangannya juga ke ayah. Kata-katanya seperti, 'aduh ini anak kayak bapaknya ya pecicilan', 'duh rambutnya botak kaya papanya', dan sebagainya. Ya walau ayah masih bisa mengatasi. Tapi itu semua termasuk bentuk shaming yang bisa merusak mental," tutup Dessy.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- Pasca Penonaktifan, 3.000 Warga Kota Yogyakarta Geruduk MPP untuk Reaktivasi PBI JK
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
- 4 Pilihan Smart TV 32 Inci Rp1 Jutaan, Kualitas HD dan Hemat Daya
Pilihan
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
-
Selamat Jalan 'Babeh' Romi Jahat: Ikon Rock N Roll Kotor Indonesia Tutup Usia
-
Sidang Adat Pandji Pragiwaksono di Toraja Dijaga Ketat
-
Ziarah Telepon Selular: HP Sultan Motorola Aura Sampai Nokia Bunglon
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
Terkini
-
Lantai Licin di Rumah, Ancaman Diam-Diam bagi Keselamatan Anak
-
Zero-Fluoroscopy, Solusi Minim Risiko Tangani Penyakit Jantung Bawaan Anak hingga Dewasa
-
Olahraga Saat Puasa? Ini Panduan Lengkap dari Ahli untuk Tetap Bugar Tanpa Mengganggu Ibadah
-
Google dan Meta Dituntut Karena Desain Aplikasi Bikin Anak Kecanduan
-
Bergerak dengan Benar, Kunci Hidup Lebih Berkualitas
-
Direkomendasikan Para Dokter, Ini Kandungan Jamtens Tangani Hipertensi dan Kolesterol
-
Perubahan Iklim Bikin Nyamuk DBD Makin Ganas, Dokter: Kini Bisa Berulang 2 Tahunan
-
Mengenal Ultra Low Contrast PCI, Pendekatan Tindakan Jantung yang Lebih Ramah Ginjal
-
Bukan Sekadar Timbangan: Mengapa Obesitas Resmi Jadi Penyakit Kronis di 2026?
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD