Suara.com - Ini yang Dibutuhkan Rumah Sakit Indonesia agar Siap Layani Pasien Stroke
Stroke adalah penyebab kematian paling umum kedua di dunia, dan penyebab disabilitas paling umum ketiga. Prevalensi stroke di Asia Tenggara diperkirakan mencapai 14,6% dan menyumbang sebanyak 4,5 juta dari 30,7 juta kasus stroke di dunia.
Di Indonesia, stroke adalah penyebab kematian nomor 1 dan dengan tingkat disabilitas yang tinggi mencapai 65%. Sementara, sistem penanganan stroke di negara-negara di kawasan Asia Tenggara berada di berbagai tahapan perkembangan.
Urgensi mengenai hal ini pun disadari oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pada Juli 2019, pemerintah meluncurkan Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Stroke (PNPK Stroke) sebagai referensi standar penanganan stroke di Indonesia.
Sebagaimana negara-negara lain di Asia Tenggara, sistem penanganan stroke di Indonesia menghadapi tantangan serupa dalam hal beban stroke yang tinggi dan kesenjangan yang signifikan dalam jumlah pusat penanganan stroke dan rumah sakit siap stroke.
“Kami melihat kebutuhan dan urgensi manajemen penanganan stroke terpadu untuk memprioritaskan penanganan pasien pra-rumah sakit, pemulihan dan rehabilitasi stroke. Namun, selain beban stroke di Indonesia, terdapat tantangan dalam menangani stroke. Hal ini termasuk belum diterapkannya standardisasi manajemen penanganan stroke di semua rumah sakit; kurangnya tim stroke yang terintegrasi; kurangnya peralatan dan fasilitas penanganan stroke; kurangnya jejaring pelayanan stroke yang terintegrasi, termasuk sistem Layanan Darurat Medis (Emergency Medical Service),"
ujar dr. Nani H. Widodo, Sp.M, MARS., Kasubdit Pelayanan Medik dan Keperawatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Memahami permasalah penanganan stroke yang belum optimal di Indonesia, Dokter dr. Temmy Winata, Head of Medical, Representatif Angels Initiative di Indonesia mengatakan, Angels Initiative mendukung peluncuran pedoman nasional tersebut, yang akan digunakan oleh para dokter spesialis saraf dan dokter umum dalam menangani pasien stroke. PNPK Stroke diluncurkan untuk menjadi pedoman komprehensif yang mencakup pengananan stroke pra-rumah sakit, terapi definitif di rumah sakit, dan sistem rujukan antar rumah sakit.
"Untuk itu, Angels Initiative, program inisiatif penanganan stroke yang bersifat non-komersial hadir dengan tujuan untuk meningkatkan jumlah rumah sakit siap stroke sehingga lebih banyak pasien yang memiliki akses, serta mengoptimalkan kualitas penanganan di pusat-pusat penanganan stroke yang baru maupun yang sudah ada,” ujar dr. Temmy Winata dalam diskusi media jelang peringatan Hari Stroke di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional yang dihadiri Suara.com di Jakarta Selatan.
Ia menjelaskan, pihaknya mendukung rumah sakit dalam mengimplementasikan program peningkatan penanganan stroke. Konsultan Angels membuat penilaian dan melakukan simulasi, baik di rumah sakit maupun di luar rumah sakit, bersama dengan tim rumah sakit untuk membandingkan penanganan stroke yang telah berjalan di rumah sakit saat ini dengan pedoman tata laksana stroke nasional atau internasional dan tata laksana klinis terbaik.
Baca Juga: Penanganan Heat Stroke, Kondisi yang Disebabkan Cuaca Panas
Untuk saat ini, salah satu rumah sakit siap stroke di Indonesia adalah RS Pusat Otak Nasional (PON) di Jakarta. RS ini pun sudah bekerja sama Angels Initiative agar dapat menyediakan penanganan cepat oleh unit khusus stroke.
“Kami menyediakan penanganan cepat oleh unit khusus stroke untuk mengurangi angka kematian, disabilitas, komplikasi dan waktu rawat inap. Kami berharap ini bisa mendorong rumah sakit lain di Indonesia untuk menjadi rumah sakit siap stroke. Semakin banyak rumah sakit yang menerapkan praktik penanganan siap stroke terbaik,” ujar dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS, Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- Daftar Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026: Petugas BPS Datangi Rumah, Tanya Gaji dan Usaha
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi