Suara.com - Bagi sebagian orang, susah tidur di malam hari atau insomnia adalah hal yang sangat menyebalkan. Selain karena membuat tidak tenang, masalah yang ditemui saat siang hari ketika beraktivitas juga sangat mengganggu, yaitu mengantuk.
Ditambah lagi saat ini ada sebuah penelitian baru yang menyebutkan orang insomnia berisiko lebih tinggi mengalami serangan jantung atau stroke. Hasil didapat setelah mengamati hampir 500.000 orang.
Mengutip Dailymail, Jumat (8/11/2019), penelitian dilakukan para peneliti China yang mengaitkan insomnia dan kondisi kesehatan yang memburuk. Imsomnia yang dialami oleh satu dari tiga orang dewasa ini dipercaya bisa mengubah fungsi tubuh.
Para ahli ini juga percaya bahwa kurang tidur bisa meningkatkan tekanan darah dan mengubah metabolisme tubuh, dan kedua faktor inilah yang pada akhirnya berisiko memunculkan penyakit jantung.
Selama satu dekade lamanya peneliti China mengikuti 480.000 orang, dengan rata-rata usia 51 tahun dan tidak punya riwayat penyakit jantung. Kemudian para relawan ini ditanya apakah mereka memikili 1 dari 3 gejala insomnia dalam periode satu minggu, seperti sulit tidur, bangun lebih awal, dan sulit fokus di siang hari.
Selain itu, peneliti juga melakukan penyesuaian faktor-faktor risiko stroke dan penyakit jantung lainnya, seperti konsumsi alkohol, merokok, dan kurangnya aktivitas fisik. Lalu ditemukan penderita dengan tiga gejala insomnia sekaligus, berisiko 18 persen terserang stroke dan jantung.
Sementara mereka yang mengaku bangun lebih awal dan tidak bisa kembali tidur berisiko 7 persen. Dan mereka yang sulit fokus di siang hari, memiliki risiko 13 persen.
"Hasil ini menunjukkan bahwa jika kita bisa menargetkan orang yang mengalami kesulitan tidur dengan terapi perilaku, ada kemungkinan bahwa kita bisa mengurangi jumlah kasus stroke, serangan jantung dan penyakit lainnya," ungkap peneliti Dr. Liming Li, dari Universitas Beijing.
“Hubungan antara gejala insomnia dan penyakit ini (jantung dan stroke), bahkan lebih besar pada orang dewasa muda dan orang yang tidak punya tekanan darah tinggi pada awalnya. Jadi, di masa depan kita harus bisa mendeteksi dini dan mengintervensi dengan melihat kelompok (insomnia) yang rentan ini," tutupnya.
Baca Juga: Benarkah Insomnia Bisa Tingkatkan Keinginan untuk Bunuh Diri?
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas di Bawah 60 Juta, Pilihan Terbaik per Januari 2026
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
Pilihan
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
-
Sita Si Buruh Belia: Upah Minim dan Harapan yang Dijahit Perlahan
-
Investor Besar Tak Ada Jaminan, Pinjol Milik Grup Astra Resmi Gulung Tikar
Terkini
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan