Suara.com - TBC atau tuberkulosis adalah penyakit paru-paru yang disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis, yang biasanya tidak tahan dan mati karena suhu panas atau sinar matahari. Nah, pertanyaannya, megapa Indonesia yang beriklim tropis alias panas masuk sebagai negara peringkat ketiga kasus TB terbanyak?
Faktanya, sinar matahari tidaklah cukup untuk melawan penyakit TB di satu negara, tapi perlu tindakan aksi nyata dan masif, seperti pemerintah yang serius menangani, dan edukasi masyarakat yang tersampaikan tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti pakai masker saat sakit, juga tidak sembarangan batuk dan bersin.
"Padahal, kita banyak matahari harusnya nggak masalah, tapi ternyata jadi masalah, karena tadi banyak kurang gizi, imunitasnya nggak bagus. Kedua, orang yang sakit TB itu tidak terdeteksi, sehingga menjadi sumber penularan terus buat orang sekitar," ujar Dr. dr. Erlina Burhan, Sp.P (K), Dokter Spesialis Paru RS Islam Jakarta dalam acara pemaparan Program TB Aisyiyah di Cikini, Jakarta Pusat, Senin (23/12/2019).
Bukan juga sekadar kebijakan dan pola hidup sehat, dampak sosial ekonomi yang rendah juga jadi sebab pemicu berkembangnya wabah TB. Seperti wilayah padat penduduk, rumah kumuh, atau kamar yang tidak punya sirkulasi udara sehingga sinar matahari bisa masuk.
"Banyak orang yang tinggal di rumah-rumah yang berdempet-dempet, sinar matahari tidak masuk, dan udara tidak bersirkulasi. Nah, kalau ada yang sakit saja di lingkungan seperti itu, itu kuman akan berkembang biak, terus terhirup oleh orang sekitarnya," jelas Dr. Erlina.
"Masalah sistem ekonomi dengan ventilasi yang tidak bagus, malah kalau pergi ke daerah kumuh di gang-gang, itu mereka nggak punya jendela, dindingnya 1, cuma satu pintu. Di sana lembap, kuman TB ini akan berkembang biak dengan cepat kalau udara lembap," lanjutnya.
Dan saat ini kita sudah tidak bisa lagi memukul rata penderita TB hanya terjadi dengan sosial ekonomi rendah. Hal ini mengingat akses mobilitas yang semakin tinggi, TB juga bisa menyerang mereka kelas menengah ke atas.
"Kalau sekarang orang akses makin banyak, orang golongan ke atas, kalau dia naik MRT, misalnya, naik busway, di bioskop XXI, ada pasien TB yang batuk sembarangan, bisa terhirup juga. Orang TB sekarang bukan orang miskin. Jadi intinya ada faktor ekonomi, tapi tidak semata-mata karena masalah ekonomi," jelasnya.
Berdasarkan data WHO, penderita TB di Indonesia pada 2018 mencapai 845.000, yang artinya bukan hanya pekerjaan rumah bagi pemerintah, tapi juga lintas sektor termasuk masyarakat dan organisasi seperti Muhammaditah dan Aisyiyah, yang menjalankan program TBC Aisyiyah bekerjasama dengan Kemenkes pengawal penyakit TB sejak 15 tahun lalu.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Perpres Demi Eliminasi TBC, Apa Saja Isinya?
Sebanyak 14 provinsi dan 130 kabupaten kota di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Barat telah didatangi untuk menanggulangi TBC. Program dijalankan berdasarkan upaya preventif dan kuratif di setiap aspek golongan masyarakat termasuk siswa dan mahasiswa.
Berita Terkait
Terpopuler
- 63 Kode Redeem FF Terbaru 21 Januari: Ada Groza Yuji Itadori, MP40, dan Item Jujutsu
- 5 Motor Bekas 6 Jutaan Cocok untuk Touring dan Kuat Nanjak, Ada Vixion!
- 36 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 22 Januari: Klaim TOTY 115-117, Voucher, dan Gems
- Toyota Vios Bekas Tahun Muda Pajaknya Berapa? Simak Juga Harga dan Spesifikasi Umumnya
- Mobil 7 Seater dengan Harga Mirip Mitsubishi Destinator, Mana yang Paling Bertenaga?
Pilihan
-
Harga Emas Bisa Tembus Rp168 Juta
-
Fit and Proper Test BI: Solikin M Juhro Ungkap Alasan Kredit Loyo Meski Purbaya Banjiri Likuiditas
-
Dompet Kelas Menengah Makin Memprihatinkan, Mengapa Kondisi Ekonomi Tak Seindah yang Diucapkan?
-
5 Rekomendasi HP Rp1 Jutaan RAM 8 GB Terbaik Januari 2026, Handal untuk Gaming dan Multitasking
-
Harda Kiswaya Jadi Saksi di Sidang Perkara Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
Lompatan Layanan Kanker, Radioterapi Presisi Terbaru Hadir di Asia Tenggara
-
Fokus Turunkan Stunting, PERSAGI Dorong Edukasi Anak Sekolah tentang Pola Makan Bergizi
-
Bukan Mistis, Ini Rahasia di Balik Kejang Epilepsi: Gangguan Listrik Otak yang Sering Terabaikan
-
Ramadan dan Tubuh yang Beradaptasi: Mengapa Keluhan Kesehatan Selalu Datang di Awal Puasa?
-
Rahasia Energi "Anti-Loyo" Anak Aktif: Lebih dari Sekadar Susu, Ini Soal Nutrisi yang Tepat!
-
Sinergi Medis Indonesia - India: Langkah Besar Kurangi Ketergantungan Berobat ke Luar Negeri
-
Maia Estianty Gaungkan Ageing Gracefully, Ajak Dewasa Aktif Waspada Bahaya Cacar Api
-
Kolesterol Tinggi, Risiko Diam-Diam yang Bisa Berujung Stroke dan Serangan Jantung
-
Telapak Kaki Datar pada Anak, Normal atau Perlu Diperiksa?
-
4 Rekomendasi Minuman Diabetes untuk Konsumsi Harian, Mana yang Lebih Aman?