Suara.com - CEO dari jaringan nasional anti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Amerika Serikat, Deborah Vagins menyatakan tingkat KDRT naik selama masa isolasi terkait pandemi corona Covid-19.
Melansir dari Huffpost, Vagins mencatat bahwa negara-negara di Amerika Serikat, Prancis, China, Australia, dan Greenland, melaporkan peningkatan KDRT setelah imbauan untuk tingal di rumah. The Straits Times juga melaporkan kejadian serupa terjadi di Jepang.
"Para korban KDRT tidak memiliki tempat lain untuk menghindari kekerasan selama krisis virus corona," kata Allison Randall, wakil presiden untuk kebijakan dan isu-isu yang muncul di Jaringan Nasional untuk Anti KDRT.
Saat penerapan jarak sosial, rumah teman atau keluarga besar tidak memungkinkan untuk dikunjungi. Korban mungkin tidak ingin pergi ke tempat penampungan kekerasan dalam rumah tangga dan tinggal bersama orang asing selama krisis.
Randall mengatakan para advokat telah mendengar banyak cerita korban KDRT di mana para pelaku menggunakan isolasi dan ketakutan tentang virus corona untuk mengendalikan dan mengintimidasi para korban.
"Mereka (pelaku) akan mengancam dengan berkata, 'jika kamu pergi, kamu akan terkena virus' atau membakar kartu asuransi mereka dan mencegah mereka pergi ke dokter untuk tes Covid-19," kata Randall.
Para ahli KDRT yang diwawancarai oleh HuffPost juga melaporkan adanya peningkatan penjualan senjata dan amunisi selama krisis Covid-19.
"Banyak pembelian senjata dimotivasi oleh rasa takut," kata Susan B. Sorenson, seorang profesor di Universitas Pennsylvania dan direktur Ortner Center on Violence & Abuse.
"Tetapi sementara masyarakat dapat membeli senjata untuk melindungi keluarga mereka, penelitian menunjukkan bahwa senjata jauh lebih mungkin digunakan untuk mengintimidasi atau mengancam anggota keluarga," kata Sorenson pada Huffpost.
Baca Juga: Dikira Epilepsi saat Berkendara, Pemotor Mendadak Tewas usai Kejang-kejang
Kristen Rand, direktur legislatif untuk Pusat Kebijakan Kekerasan mengingatkan bahwa masih terlalu dini untuk mengetahui apakah pembunuhan-bunuh diri telah meningkat selama krisis virus corona.
"Biasanya, jumlah insiden berfluktuasi dari minggu ke minggu," kata Rand.
"Saya berharap para peneliti akan melakukan studi peer-review tentang apa yang terjadi dengan kekerasan dalam rumah tangga selama periode ini," tambahnya.
Menurut Casey Gwinn, seorang pakar nasional dalam kekerasan dalam rumah tangga dan presiden Alliance for Hope International. Virus corona memang tidak secara langsung menimbulkan sikap kekerasan, melainkan kondisi di balik situasi tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- 6 Smartwatch di Bawah Rp1 Juta, Fitur Premium untuk Aktivitas Sehari-hari
- Kata Anak Pinkan Mambo Usai Tahu Sang Ibu Ngamen di Jalan: Downgrade Semenjak Nikah Sama Suaminya
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
Pilihan
-
Akses Jalan Diblokir, Warga Kepung Pesantren Darul Istiqamah Maros
-
Brady Ebert Bekas Gitaris Turnstile Ditangkap Terkait Kasus Percobaan Pembunuhan
-
Tak Ganggu Umat Muslim, Pihak Yayasan Pastikan Rumah Doa Jemaat POUK Tesalonika Jauh dari Masjid
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
Terkini
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026