Suara.com - Vaksin virus corona kini tengah dalam perkembangan dan pencarian oleh para peneliti di seluruh dunia.
Kini terhitung ada 70 kandidat vaksin sedang berada dalam pengembangan, naik dari jumlah 44 vaksin sejak 20 Maret lalu, menurut sebuah dokumen yang dipublikasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Para ahli memperkirakan butuh antara 12 hingga 18 bulan sampai vaksin tersebut disetujui untuk penggunaan secara massal.
Dilansir CNBC, dari 70 vaksin tersebut, hanya tiga yang sedang berada dalam uji klinis, yang berarti sudah diujikan kepada manusia.
Uji klinis didesain untuk melihat keamanan dan efikasi dari suatu obat baru dan terdiri dari beberapa fase, tiap fasenya melibatkan sejumlah pasien.
Tiga vaksin tersebut berasal dari perusahaan CanSino Biological di China, yang bekerjasama dengan Beijing Institute of Biotechnology, dengan kandidat vaksinnya berada di uji klnis fase kedua.
Kemudian Moderna dan Inovio Pharmaceuticals dari Amerika Serikat yang sedang berada dalam fase pertama. Sementara 67 vaksin potensial lainnya sedang dalam tahap pra uji klinis.
Sembari menanti vaksin, para peneliti juga mencari pengobatan-pengobatan lain yang efektif. Sementara ini masih difokuskan menggunakan obat-obatan yang sudah ada.
Misalnya perusahaan health-care AstraZeneca di Inggris yang mengumumkan pada hari Selasa (14/4/2020) akan memulai uji klinis untuk menilai potensi Calquence, obat yang digunakan untuk mengobati leukemia.
Baca Juga: Vaksin Covid-19 Tersedia September, Bahaya Ventilator bagi Pasien Covid-19
Obat ini akan digunakan sebagai perbaikan respons imun terkait Covid-19. Uji coba ini diperkirakan akan dibuka beberapa hari lagi di AS dan beberapa negara di Eropa.
Masih banyak kesimpangsiuran soal keamanan penggunaan obat malaria klorokuin dan hidroksiklorokuin yang disebut-sebut oleh Presiden AS Donald Trump sebagai obat terbaik.
Namun hal ini kemudian dibantah oleh para peneliti di Brazil setelah mereka menemukan bahwa dosis tinggi obat tersebut terkait dengan timbulnya denyut jantung yang tak beraturan.
"Komunitas riset medis sedang menangani potensi klorokuin dan hidroksiklorokuin secara serius dan kini sedang terlibat dalam beberapa uji coba yang berbeda," kata WHO Executive Director of the Health Emergencies Programme, Dr Michael Ryan, berbicara pada briefing soal virus corona di Jenewa pada Senin (13/4/2020).
Ia menambahkan bahwa belum ada bukti empiris bahwa obat tersebut dapat bekerja, dan para dokter telah diperingati soal efek samping dari obat-obatan tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
- 7 Sunscreen Flek Hitam untuk Usia 50 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
Terkini
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance
-
Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum
-
Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun
-
Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut