Suara.com - Jika para dokter di Italia harus memilih pasien Covid-19 mana yang diselamatkan dan dibiarkan meninggal, maka para dokter di Amerika Serikat menghadapi keputusan sulit lain. Mereka harus menjatah remdesivir pada pasien terkait terbatasnya pasokan obat eksperimental terbukti efektif melawan virus itu.
"Kami sebenarnya, pada akhirnya memiliki cukup ventilator," kata Dr. Rochelle Walensky, kepala penyakit menular di Rumah Sakit Umum Massachusetts pada CNN.
“Tetapi kita tahu dosis remdesivir yang akan kita dapatkan tidak akan cukup untuk mengobati setiap pasien yang kita miliki di rumah sakit sekarang dan pasien tetap akan datang selama beberapa minggu ke depan,” tambahnya.
Dilansir dari CNN, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) memberi otorisasi remdesivir untuk penggunaan darurat awal Mei.
Menurut pembuat obat Gilead Sciences, hanya ada 100.000 hingga 200.000 pasien remdesivir, sekitar 40 persen dari pasokan saat ini telah dicadangkan untuk AS.
Pekan lalu, pemerintah mulai mendistribusikan botol-botol remdesivir langsung ke beberapa rumah sakit, tetapi tidak jelas mengapa beberapa menerima obat sementara yang lain tidak menerima apa pun.
Setelah dokter menyatakan kemarahannya, HHS kembali ke rencana semula dan memutuskan untuk memberikan remdesivir ke departemen kesehatan negara bagian untuk dikelola.
Tetapi ketika obat itu masuk ke rumah sakit, dokter bergulat dengan cara menjatah beberapa botol yang mereka dapatkan. Para dokter masih belum mendapatkan panduan penggunaan dan aturan etika dokter.
"Ini adalah pekerjaan yang sedang terjadi sebelum kami menerima obat," kata Walensky.
Baca Juga: Jokowi Berharap Pembagian Bansos Jangkau 55 Persen Penduduk Indonesia
Dua bulan lalu, ahli etika kedokteran menggunakan pendekatan yang sama untuk mengalokasikan ventilator. Namun, tidak seperti ventilator, remdesivir bukanlah obat jaminan yang menyelamatkan jiwa.
Remdesivir memperpendek masa tinggal di rumah sakit pasien sekitar empat hari dalam uji klinis, itu belum terbukti mengurangi risiko kematian. Namun, ini adalah salah satu dari sedikit obat yang tersedia dan memiliki efek positif pada pasien.
"Ini akan menjadi situasi di dunia kedokteran ketika Anda berpikir bahwa ada sesuatu yang bisa dan harus Anda lakukan untuk seseorang, namun Anda tidak memilikinya," kata Walensky.
Pada tahap ini dokter harus memilih siapa yang mendapat remdesivir dan siapa yang tidak.
"Seorang dokter membuat keputusan hidup atau mati tentang bagaimana mengalokasikan obat ini dalam jumlah terbatas, pasien mana yang mendapatkannya dan mana yang tidak, uji klinis sangat penting dalam hal itu. Mereka (NHS) belum menyediakannya," kata Lloyd Doggett, kepala Subkomite House Ways and Means Health.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
- Terpopuler: 5 HP Samsung RAM 8 GB Termurah, Sinyal Xiaomi 17T Series Masuk Indonesia
- Promo Indomaret 26 Februari Sampai 1 Maret 2026, Diskon Besar Minyak Goreng dan Pampers
- PERANG DIMULAI: Amerika dan Israel Serang Ibu Kota Iran
Pilihan
-
Istri Ayatollah Ali Khamenei Juga Gugur Sehari Setelah Sang Suami, Dibom Israel-AS
-
Istri Ali Khamenei Meninggal Dunia Akibat Luka Serangan AS-Israel ke Iran
-
Bakal Gelap Gulita! Pemkot Solo Stop Sementara Pembayaran Listrik Keraton Surakarta ke PLN
-
Imbas Perang Iran, Pemerintah Cari Minyak dari AS demi Cegah Harga BBM Naik
-
Info Orang Dalam, Iran Hampir Pasti Tak Ikut Piala Dunia 2026
Terkini
-
Tips Memilih Klinik Tulang Terpercaya untuk Terapi Skoliosis Non-Operasi
-
Presisi dan Personalisasi: Arah Baru Perawatan Kanker di Asia Tenggara
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?