Suara.com - Para ilmuwan kini sedang mengembangkan lebih dari 100 vaksin Covid-19 menggunakan berbagai teknik. Beberapa di antaranya sudah mantap dan sebagian lainnya belum disetujui untuk penggunaan medis sebelumnya.
Sebagian besar, vaksin ini menargetkan protein lonjakan yang menutupi virus dan membantunya menyerang sel manusia. Sistem kekebalan tubuh dapat mengembangkan antibodi yang menempel pada protein lonjakan dan menghentikan virus.
Protein lonjakan virus merupakan struktur unik di atas selubung virus yang memungkinkan virus menempelkan dirinya ke sel manusia.
Vaksin yang berhasil untuk virus corona akan mengajarkan sistem kekebalan untuk membentuk antibodi terhadap virus tanpa menyebabkan penyakit.
Dilansir New York Times, berikut berbagai pendekatan vaksin Covid-19.
1. Vaksin keseluruhan virus (vaksin yang dimodifikasi keseluruhan virus corona untuk memancing respon imun)
Vaksin yang dilemahkan dan hidup : Sebagian besar vaksin yang digunakan saat ini memasukkan bentuk virus yang tidak aktif atau melemah sehingga tidak dapat menyebabkan penyakit. Ketika sel-sel kekebalan bertemu dengan vaksin, mereka akan membentuk antibodi.
Membuat vaksin ini berarti menumbuhkan banyak virus. Prosedur yang memerlukan waktu berbulan-bulan untuk menghasilkan vaksin baru.
Contoh: Vaksin influenza, cacar air, campak, gondok, dan rubela.
Baca Juga: Update Covid-19 Global: Rusia Berhasil Tekan Kematian Kurang dari 1 Persen
2. Vaksin genetik (vaksin yang menggunakan bagian dari kode genetik virus corona)
Vaksin DNA: Sejumlah vaksin virus corona ekperimental tidak memasukkan keseluruhan virus. Sebagai gantinya, mereka memberikan instruksi genetik untuk membangun protein virus.
Protein kemudian dapat merangsang sistem kekebalan untuk membuat antibodi dan membantu meningkatkan pertahanan lain terhadap virus corona.
Salah satu pendekatan genetik ini dikenal sebagai vaksin DNA. Lingkaran DNA hasil rekayasa dikirim ke sel. Sel-sel akan membaca gen virus, membuat salinan dalam molekul yang disebut messenger RNA, dan kemudian menggunakan mRNA untuk mengumpulkan protein virus. Sistem kekebalan mendeteksi protein dan meningkatkan pertahanan.
Contoh: Belum ada vaksin DNA yang disetujui untuk digunakan pada manusia, tetapi para peneliti sedang melakukan uji coba untuk melihat apakah mereka mungkin efektif untuk penyakit seperti Zika dan flu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Jay Idzes Tercoret! Ini Daftar Pemain Timnas Indonesia Hadapi FIFA Matchday
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
Terkini
-
Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI