Suara.com - Orangtua Wajib Tahu, Tahapan Perkembangan Kemampuan Bicara Anak Sesuai Usia
Kemampuan bicara tahapan tumbuh kembang anak yang perlu dilatih secara bertahap. Orangtua harus mengetahui batasan usia anak bisa bicara atau mendengar dan merespon suara sesuai kemampuannya.
Hal itu agar orangtua bisa mengetahui apakah anaknya mengalami keterlambatan bicara atau tidak.
Dokter spesialis anak prof. DR. Dr. Rini Sekartoni, SpA (K) menjelaskan bahwa kemampuan bicara dibagi menjadi dua yaitu reseptif dan ekspresif.
Reseptif merupakan kemampuan anak mendengar dan merespon suara atau ucapan orang lain. Sedangkan ekspresif, kemampuan anak dalam berbicara secara lisan.
Rini menjelaskan bahwa ketika bayi usia 0-2 bulan kemampuan ekspresifnya hanya menangis. Sedangkan reseptifnya mampu mengikuti sumber suara yang timbul.
"Perlu diperhatikan dia menoleh ke sumber suara atau tidak. Jadi ibu-ibu harus perhatikan kalau ada sumber suara wajahnya ada respon tidak. Itu untuk mengecek fungsi mata dan telinga," kata Rini dalam Webinar perayaan IDAI yang ditayangkan di kanal YouTube Primaku Channel, Senin (8/6/2020).
Usia 2-4 bulan, kemampuan ekspresif bayi mulai bertambah dengan bisa mengucapkan konsonan o dan a, kata Prof Rini. Menuritnya, tidak ada bayi yang bisa menyebut konsonan i dan e saat usia tersebut.
Saat usia enam bulan, bayi sudah harus mulai bisa mengucapkan suku kata seperti ma-ma-ma dan pa-pa-pa. Tahap itu biasa disebut dengan babbling.
Baca Juga: Warga DKI Tidak Percaya Influencer dan Selebritas Jika Bicara Virus Corona
"Gak ada yang bilang mi-mi-mi. Makanya orangtua yang dipanggil umi atau ibu itu susah karena bayi belum bisa menyebut i diusia awal. Dia belajarnya o dan a," kata Rini.
Ia menambahkan, selain mengucapkan suku kata, saat usia 9 bulan bayi sudah bisa menggerakan tangannya untuk menunjuk. Selain itu, bayi juga sudah mengerti kata umum seperti dah atau bye.
"Usia 12 bulan sudah bisa mengerti perintah verbal. Nanti 15 bulan bisa menunjuk anggota tubuh tapi harus diajarkan. Mengajarkannya pakai lagu bisa, tidak harus pakai lagu boleh," ucapnya.
Rini menyarankan, agar orangtua mengajarkan tentang anggota tubuh kepada anak di depan cermin. Orangtua menunjuk anggota tubuh dan anak diarahkan tangannya ke anggota tubuhnya sendiri.
Salah satu yang perlu diperhatikan adalah saat bayi usia 18 bulan. Ia harus mampu mengerti kalimat dan mengerti instruksi sederhana, bisa mengeluarkan kata secara cepat sekitar 6 sampai 10 kata yang benar dan tepat.
"Di atas dua tahun dapat mengikuti perintah dan perkatannya 50 persen sudah bisa dimengerti dan bisa membuat kalimat. Seterusnya akan tambah komplek kemampuan bicaranya," tuturnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- HP yang Awet Merek Apa? Ini 6 Rekomendasi Terbaik dengan Performa Kencang
Pilihan
-
Profil Mojtaba Khamenei: Sosok Kuat Penerus Ali Khamenei, Calon Pemimpin Iran?
-
Iran Akui Ayatollah Ali Khamenei Meninggal Dunia, Umumkan Masa Berkabung 40 Hari
-
Iran Bantah Klaim AS dan Israel: Ali Khamenei Masih Hidup!
-
Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
-
Iran Klaim 200 Tentara Musuh Tewas, Ali Khamenei Masih Hidup
Terkini
-
Presisi dan Personalisasi: Arah Baru Perawatan Kanker di Asia Tenggara
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia