Suara.com - Sekitar 120.000 orang Amerika telah meninggal karena virus corona dan jumlah harian kasus baru di AS adalah yang tertinggi dalam lebih dari sebulan.
Meskipun begitu, gelombang kedua masih digembar-gemborkan, tetapi para ilmuwan menekankan bahwa kata gelombang kedua masih belum tepat, khususnya di Amerika Serikat.
"Ketika Anda memiliki infeksi 20.000 lebih per hari, bagaimana Anda bisa berbicara tentang gelombang kedua?" kata Dr. Anthony Fauci dari National Institutes of Health seperti yang dikutip dari Medicalxpress.
"Kita berada di gelombang pertama. Mari kita keluar dari gelombang pertama sebelum kamu memiliki gelombang kedua," tambahnya.
Dilansir dari Medicalxpress, jelas ada puncak infeksi awal pada bulan April ketika kasus meledak di New York. Setelah sekolah dan bisnis ditutup di seluruh negeri, tingkat kasus baru agak menurun.
"Ini lebih merupakan dataran tinggi bukan palung setelah gelombang," kata Caitlin Rivers, seorang peneliti penyakit di Pusat Keamanan Kesehatan Universitas John Hopkins.
Para ilmuwan umumnya sepakat bahwa AS masih dalam gelombang pertama infeksi virus corona, meskipun kasus menurun di beberapa bagian negara tapi juga naik di bagian lain.
"Virus ini menyebar di seluruh Amerika Serikat dan mengenai tempat-tempat yang berbeda dengan intensitas yang berbeda pada waktu yang berbeda," kata Dr. Richard Besser, kepala eksekutif Robert Wood Johnson Foundation yang bertindak sebagai direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.
Beberapa ahli khawatir gelombang besar virus corona mungkin terjadi pada musim gugur atau musim dingin setelah sekolah dibuka kembali, ketika cuaca berubah menjadi lebih dingin dan lebih sedikit lembab dan orang-orang berkerumun.
Baca Juga: Penembakan di Minneapolis Amerika Serikat, 1 Orang Tewas dan 11 Luka-Luka
Dan gelombang kejatuhan seperti itu bisa sangat buruk, mengingat tidak ada vaksin atau para ahli berpikir kebanyakan orang Amerika tidak memiliki virus.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- Pasca Penonaktifan, 3.000 Warga Kota Yogyakarta Geruduk MPP untuk Reaktivasi PBI JK
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
- 4 Pilihan Smart TV 32 Inci Rp1 Jutaan, Kualitas HD dan Hemat Daya
Pilihan
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
-
Selamat Jalan 'Babeh' Romi Jahat: Ikon Rock N Roll Kotor Indonesia Tutup Usia
-
Sidang Adat Pandji Pragiwaksono di Toraja Dijaga Ketat
-
Ziarah Telepon Selular: HP Sultan Motorola Aura Sampai Nokia Bunglon
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
Terkini
-
Lantai Licin di Rumah, Ancaman Diam-Diam bagi Keselamatan Anak
-
Zero-Fluoroscopy, Solusi Minim Risiko Tangani Penyakit Jantung Bawaan Anak hingga Dewasa
-
Olahraga Saat Puasa? Ini Panduan Lengkap dari Ahli untuk Tetap Bugar Tanpa Mengganggu Ibadah
-
Google dan Meta Dituntut Karena Desain Aplikasi Bikin Anak Kecanduan
-
Bergerak dengan Benar, Kunci Hidup Lebih Berkualitas
-
Direkomendasikan Para Dokter, Ini Kandungan Jamtens Tangani Hipertensi dan Kolesterol
-
Perubahan Iklim Bikin Nyamuk DBD Makin Ganas, Dokter: Kini Bisa Berulang 2 Tahunan
-
Mengenal Ultra Low Contrast PCI, Pendekatan Tindakan Jantung yang Lebih Ramah Ginjal
-
Bukan Sekadar Timbangan: Mengapa Obesitas Resmi Jadi Penyakit Kronis di 2026?
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD