Health / Konsultasi
Selasa, 07 Juli 2020 | 12:05 WIB
Ilustrasi Tuberculosis. (Shutterstock)

Suara.com - Indonesia tidak hanya menghadapi ancaman pandemi Covid-19 tetapi juga permasalahan lama yaitu tuberculosis atau TB yang tak kunjung usai di Tanah Air.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kemenkes RI, dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes mengatakan, secara statistik, setiap jam ada 13 orang Indonesia yang meninggal dunia karena TB.

Angka tersebut membuat Indonesia menjadi negara ketiga tertinggi di dunia kematian akibat TB.

"kita ranking tiga di dunia, jadi artinya bebannya sudah cukup tinggi," ujar dr. Wiendra dalam teleconference di Graha BNPB, Jakarta Timur, Selasa (7/7/2020).

Indonesia hanya sedikit lebih rendah dibanding India dan China sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia.

Menjadikan TB sebagai penyakit menular penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

"Juga beban TB sebagai angka kematian juga cukup tinggi. Artinya ada 13 orang per jam orang Indonesia meninggal karena TB," terangnya.

Kemenkes RI, kata dr. Wiendra setidaknya telah mengestimasi ada 840.000 kasus TB di Indonesia.

Tapi sayangnya, hasil temuan yang baru didapatkan baru 69 persennya, atau baru sebanyak 540.000 kasus ditemukan di Indonesia.

Baca Juga: Pemerintah Pakai Mesin Pendeteksi TB untuk Periksa Covid-19, Apa Untungnya?

Berbeda dengan Covid-19 yang belum ditemukan obatnya, obat TB sudah ada dan disediakan gratis oleh pemerintah.

Untuk bisa sembuh dari TB, pasien harus minum obat selama enam bulan penuh. Jika gagal dilakukan, risikonya pasien bisa mengalami resisten obat yang memicu penularan jenis TB yang lebih berbahaya.

"Enam bulan minum obat bosan, akhirnya putus obat, setelah putus obat dia jadi resisten. Kalau dia resisten, dia akan memberikan penularan yang lebih daripada sebelumnya. Jadi sembuhnya tidak sempurna, padahal obat ini disediakan gratis oleh pemerintah," tutupnya.

Load More